HARU

7 Sep

Author             : Nenden Muliasari

Title                 : HARU (ONE DAY)

Cast                 : Kim Bum, Kim So Eun

Rating             : 17

Genre              : Romance

Type                : One Shoot (OS)

Karakter yang ada di cerita ini bukanlah milik author. Author hanya meminjam nama karakter yang ada di cerita ini. Jika terjadi kesamaan nama tempat dan tokoh harap dimaklumi. Cerita ini hanya karangan fiktif belaka.

NB: Saengil Chuka Habnida~~~~~ sso eonni.

HARU

Aku ingin menghubungkan pertemuan musim gugurku dengannya dengan segala yang bisa aku rangkai. Karena cinta bagaikan benang merah yang menghubungkan takdirku dengan takdirnya, mengetuk pintu hatiku dengan lembut selembut kembang gula.

Seorang pria sedang berjalan sendirian disebuah stasiun kereta api jurusan Chuncheon. Pria berpenampilan casual tersebut terlihat muda dan segar. Rambutnya yang cokelat kegelapan dan kulitnya yang kuning langsat membuat dirinya semakin mempesona. Laki-laki tersebut kemudian duduk disebuah kursi tunggu di stasiun tersebut. Dia duduk paling ujung di sebelah kiri meskipun kursi dibagian tengah masih kosong.

Kim Bum’s POV

Aku melihat jajaran kursi tunggu didekatku masih kosong. Mungkin aku terlalu pagi datang kemari. Sepertinya aku memang datang terlalu pagi. Hari ini dan tempat ini, kenapa semuanya berakhir seperti ini? Hari ini yang seharusnya menjadi hari dimana aku dan Seul Gi pergi bersama-sama ke Chuncheon untuk merayakan hari ulang tahunnya hanya berakhir pergi sendiri. Hari ini yang seharusnya menjadi hari yang akan sangat membahagiakan bagi Seul Gi karena bertetapan dengan hari ulang tahunnya dan akan menjadi hari dimana aku akan melamarnya malah menjadi hari ke 100 kepergiannya untuk selamanya.

Aku merogoh handphone yang ada disakuku. Aku pasangkan earphone pada telingaku yang sudah tersambung dengan handphoneku. Terputarlah video yang telah aku buat beberapa bulan yang lalu yang seharusnya hari ini aku tunjukan padamu, Seul Giya. Video perjalanan cinta kita selama 8 tahun ini.

“Tuhan, kenapa kau mengambil Seul Gi begitu cepat dari dekapanku?” Aku sungguh tak bisa terus seperti ini.

“Seul Giya, apa yang harus aku lakukan?? Aku selalu seperti orang gila setiap harinya setelah kepergianmu.” Aku harus bisa melepasmu.

Semakin aku melihat video yang aku buat sendiri, semakin aku tak sanggup. Hari ini, aku akan melepasmu Seul Giya. Aku ingin bisa berbahagia lagi. Bukankah itu keinganmu jika aku bisa tersenyum lagi setelah kepergianmu?

Flashback

Satu tahun yang lalu…

Senyum Seul Gi terukir cantik diwajahnya. Aku menatapnya dengan penuh rasa kasih sayang. Wanita yang telah aku kencani selama 7 tahun lebih ini tak pernah sekalipun membuatku terbebani dan tak nyaman.

“Kau harus menepati janjimu.” Terdengar suara lembut Seul Gi.

“Bagaimana bisa aku tersenyum jika tanpa keberadaanmu?” Tolong, jebal..jangan meminta sesuatu yang sesulit ini padaku di saat seperti ini Seul Gi.

“Aku sudah memenuhi keinginanmu..aku berjanji aku akan melakukan operasi itu. Aku ingin hidup untukmu dan untukku. Namun kau juga harus mau memenuhi keinginanku, Bum-ah.” Permintaanya terasa sangat begitu sulit. Aku tersenyum sambil membelai rambutnya.

“Geurae~ aku akan tersenyum dan akan membuat diriku bahagia.” Jawabku sambil tersenyum. Melihatnya juga tersenyum membuatku ingin menangis.

“Yaksok! Kalau begitu, tahun depan kita akan melakukan hal seperti ini lagi. 6 september tahun 2014 kita akan pergi lagi.” Aku menganggukan kepala. Kebiasaan yang kami lakukan setiap hari ulang tahun Seul Gi, pergi berlibur atau mendaki bukit.

“Kemana destinasi kita selanjutnya?” Tanyaku. Akan aku jadikan destinasi selanjutnya sebagai liburan terindah pada ulang tahunmu karena itu akan menjadi saat dimana aku akan melamarmu Seul Giya.

“Chuncheon. Aku ingin menunggu kereta dan pergi kesana menggunakan kereta.” Aku menunjukan gerakan OK dari kedua jariku yang kubentuk.

 

End of flashback

 

Kini aku ke Chuncheon sendiri. Tahun ini pun aku ke Chuncheon bukan untuk melamarmu pula. Tahun ini aku ke Chuncheon justru untuk melepas kepergianmu dengan ikhlas Seul Gi ya. Aku merogoh tas gemblok ku. Ku keluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah berbentuk bunga mawar itu. Aku buka kotak tersebut. Terlihat masih ada sebuah cincin terdapat didalamnya. Cincin yang sama yang sedang aku kenakan saat ini dijari manis kananku. Cincin yang seharusnya hari ini aku pasangkan pada jari manis Seul Gi. Aku pun mengambil cincin itu, namun tak sengaja aku menjatuhkannya. Andwe..aku tidak bisa kehilangan cincin itu disini. Aku harus membawa cincin itu ke Chuncheon. Namun, tuhan apa yang terjadi ini? Apa yang aku lihat saat ini. Cincin itu dipungut oleh seorang perempuan. Perempuan yang duduk diujung kanan dari kursi tunggu yang aku duduki juga. Kursi yang hanya diduduki oleh kami. Kursi yang hanya terisi ujungnya saja olehku dan olehnya. Rasanya suaraku hilang seketika bahkan ketika aku berniat untuk berteriak pada perempuan itu untuk jangan mengambil cincin itu.

Author’s POV

Kim Bum tengah sibuk memperhatikan cincin yang ada dikotak cincinnya dengan cincin yang ada di jari manisnya. Kursi tunggu yang dia duduki masih tetap tak terisi orang lain selain dirinya. Ditengah fokusnya yang teralihkan pada cincin itu, dia tak sadar jika ada seorang perempuan cantik yang baru saja tiba di stasiun itu dan duduk di bagian ujung kanan kursi tunggu yang diduduki oleh Kim Bum. Perempuan yang terlihat feminism itu duduk sambil melanjutkan kembali aktifitas membaca novel yang disenanginya itu. Tiba-tiba cincin yang sedang dipegang oleh Kim Bum terjatuh dan menggelinding ke arah kaki wanita muda yang bernama So Eun itu. Sadar jika ada cincin menggelinding dan berhenti di dekat sepatunya, So Eun pun berhenti membaca dan memungut cincin cantik itu.

“Huh..cincin siapa ini?” Tanya So Eun sambil mengambil cincin itu.

“Bagus juga…ternyata cocok juga ditanganku.” Gumam So Eun sambil memasangkan cincin itu di jarinya. So Eun pun memutarkan duduknya hingga dia bisa melihat Kim Bum. Namun ekpresi So Eun terlihat kaget melihat Kim Bum yang melongo menatapinya. “Omo…kkamjakiya (mengagetkanku).” Lanjut So Eun.

“Bagaimana bisa kau gegabah seperti itu?” Tanya Kim Bum.

“Ne?” Tanya So Eun.

“Bagaimana bisa kau memakain cincin ini? Ini bukan milikmu.” Ucap Kim Bum terlihat kesal.

“Oh..apakah ini cincin milikmu??? Jwosonghabnida..aku tidak tahu. Kau mestinya berbicara dari tadi.” Ucap So Eun sambil menunjukkan cincin yang sudah terpasang dijari manis kanannya itu.

“Lepaskan cincin itu sekarang juga!.” Ucap Kim Bum dengan dingin.

“Tentu..” Ucap So Eun. Namun sepertinya ucapan So Eun tak semudah pengaplikasiannya. Cincin itu terlihat susah untuk dilepaskan dari tangannya. Mungkin karena waktu memasangkannya juga sedikit dipaksakan tadi. Kim Bum terlihat gelisah. “Sepertinya ini lebih sulit dari yang aku bayangkan.” Lanjut So Eun.

“Kalau kau tahu akan seperti ini, kenapa kau gegabah memakainya??? Cepat lepaskan!” Perintah Kim Bum.

“Maafkan aku.” Ucap So Eun. “Kalau begitu, bisakah kau membantuku melepaskannya?” Tanya So Eun.

“Mworago?” Wajah Kim Bum terlihat kesal.

“Tolong lepaskan..aku tak bisa melepaskannya. Jeongmal jwosohabnida.” Ucap So Eun.

Akhirnya Kim Bum dan So Eun saling mendekatkan diri dan kini mereka berada di bagian tengah kursi tunggu tersebut. So Eun menjulurkan tangan kanannya dan Kim Bum berusaha melepaskan cincin itu dari tangan So Eun. Namun sepertinya apa yang dikatakan So Eun kali ini bisa dipercayai oleh Kim Bum. Kim Bum merasa kesal sendiri karena semakin dia memaksa mengeluarkannya, semakin terlihat jika So Eun kesakitan.

“Sudahlah..anggap saja aku membuang cincin ini padamu.” Ucap Kim Bum.

“Ne?” kaget So Eun. “Membuang?” Tanya So Eun lagi.

“Tapi aku mohon, jika kau sudah bisa melepaskannya. Jangan kau pakai lagi, buanglah dimanapun kau ingin membuangnya.” Ucap Kim Bum.

“Ne?” So Eun masih bingung.

“Lupakan tentang kejadian pagi ini. Semoga kita tak bertemu lagi.” Ucap Kim Bum sambil berjalan meninggalkan So Eun.

So Eun masih termenung atas kejadian yang baru saja terjadi. So Eun pun menyimpan tangannya disamping buku novelnya kayak Park Chae Rin. So Eun menatapi cincin yang kini tak sengaja sudah melingkar dijari kanannya, bersampingan dengan novel yang di covernya tertera judul Eunmyeongcheorom Neol Saranghae (Ditakdirkan untuk Mencintaimu). Sementara Kim Bum berjalan menuju ke tempat tunggu yang lain.

“Bagaimana bisa dia memakaikannya di jarinya?? Itu kan cincin yang akan aku gunakan untuk melamar Seul Gi.” Gumam Kim Bum.

“Tidak bisa orang lain yang memakainya.” Lanjut Kim Bum.

So Eun’s POV

Mungkin dengan cara ini tuhan mempertemukan aku dengan tulang rusukku yang sejati. Tuhan selalu memiliki cara yang berbeda untuk menyatukan dua insan.. dan aku selalu menginginkan cara yang unik. Mungkin dengan cara ini.. meskipun wanita yang masih misterius itu.. aku merasa sedikit lebih dekat dengan tulang rusukku itu.

Kata-kata yang sangat indah sekali. Entah kenapa setiap kali aku membaca bagian isi hati Sung Jae di novel ini aku serasa mengalaminya juga. Meskipun aku adalah gadis yang baru saja patah hati, namun aku tak sesedih yang orang pikirkan tentang aku. Aku membaca lagi lanjutan cerita ini sambil sesekali mataku melirik cincin yang ada di jariku.

Takdir itu dapat mengetuk pintu dengan kuat atau dengan lembut. Tergantung terbuat dari apakah pintu itu. Pintu hatiku seperti bunga gula yang bisa kau ketuk dengan lembut, dan perlahan kau memasuki takdir barumu itu. Kaukah takdirku yang sebenarnya? Restu yang akan membawaku ke kebahagianku kah?

 

Lagi-lagi aku terpukau dengan kalimat yang disuguhkan penulish Park di novel ini. Kisah tentang bagaimana dua orang yang tak pernah menyangka akan bersama malah berakhir bersama karena takdir yang membuat mereka harus saling mencintai seperti itu. Aku pun menutup novel yang baru aku baca hingga halaman 203 itu.

Aigo, apa yang sedang aku lihat ini? Benarkan jika mereka itu para pegawai ayah? Ayah memang benar-benar pintar melacak keberadaanku. Oh My God!!! Bagaimana aku bisa sampai lupa me nonaktivekan GPS di handphone ku seperti ini. So Euni Baboya!! So Euni Baboya!!

Aku berlari dari incaran para pegawai ayah. Terdengar suara kereta yang sepertinya akan segera merapat kemari. Aku harus bisa segera masuk kedalam kereta dan bersembunyi sebelum mereka menemukanku. Benar saja dugaanku, kereta tiba dan aku langsung masuk kedalam kereta. Aku harus segera mendapatkan tempat duduk, tempat yang bisa membuatku aman dan tidak akan pulang hari ini ke rumah. Jebal…aku ingin menghabiskan hari ulang tahunku sendiri saja tanpa semua kemewahan dan hal-hal aneh itu. Aku berharap di hari ulang tahunku ini aku bisa pergi ke Chuncheon dan menyiapkan hidangan juga untuk eomma di rumah lama kita, abeoji. Mianhae.

BRAVO So Eun-ah. Akhirnya aku menemukan kursi kosong juga. Aku harus langsung menempatinya sebelum aku didahului oleh orang. Aku pun akhirnya bisa menempati kursi ini yang masih belum ditempati sama sekali. Aku langsung duduk dikursi dekat dengan jendela. Aku memang paling senang melihat pemandangan dari jendela kereta. Mengingatkanku dengan kebiasaan kecilku ketika pergi atau pulang ke Chuncheon. Aku menatapi pemandangan di luar jendela, hingga aku sadar jika ada seseorang yang kini duduk disampingku, menempati jok kosong disampingku. Aku memalingkan mukaku, aku harus menyapanya. Ini adalah sopan santun. Tapi, Omo..apa yang sedang terjadi saat ini? Kenapa dia lagi? Kenapa aku harus bertemu dengan dia lagi? Kenapa harus lelaki pemilik cincin ini yang duduk di jok sampingku. Tuhan, cerita lain apalagi yang akan terjadi selanjutnya?

Author’s POV

Setelah mencari-cari kursi kosong untuk dia duduki akhirnya Kim Bum menemukan satu kursi kosong yang masih tersisa. Terlihat seorang perempuan sudah terlebih dahulu menempati kursi disebelahnya yang berada disamping jendela. Kim Bum tanpa melihat siapa orang itu langsung saja duduk di jok yang tersisa. Namun, seketika wajahnya kaget ketika dia tahu jika wanita yang duduk disampingnya adalah wanita yang tadi bertemu dengannya. Wanita yang memakai cincin lamaranya itu. Mata keduanya saling bertemu.

“Kita bertemu lagi.” Sapa So Eun.

“Sepertinya keinginanku bertolak belakang dengan kenyataan.” Ucap Kim Bum.

“Maaf karena kita bertemu lagi.” Ucap So Eun. Kim Bum menatapi cincin yang terlihat cantik dijemari So Eun.

Unmyeongcheorom (seperti takdir).” Ucap Kim Bum.

“Ne?” Tanya So Eun.

“Seperti judul novel yang sedang kau baca itu. Unmyeongcheorom. Hari ini kita sudah dua kali bertemu dan bahkan aku akan melewati perjalanan ke Chuncheon bersamamu juga.” Ucap Kim Bum.

“Takdir hari ini, aku usahakan ini akan menjadi takdir satu hari kita.” Ucap So Eun.

“Nikmatilah perjalananmu.” Ucap Kim Bum, So Eun menganggukan kepalanya.

“Kau juga.” Ucap So Eun.

Kereta pun mulai melaju menuju Chuncheon. Kim Bum memasangkan earphone yang sudah tersambung ke handphonenya ke telinganya. Dia mulai mendengarkan lagu-lagu favoritnya seperti Nae Mameu Deurowa (Kau Datang Dalam Hatiku), Banji (cincin) dan juga lagu Yaksok (janji). Sementara disampingnya, So Eun sibuk membaca novel nya.

“Kau sangat cantik sekali, tersenyumlah jangan tegang seperti itu, cantikmu akan hilang.” Terdengar suara seorang lelaki yang duduk di sebrang jok yang diduduki Kim Bum dan So Eun. Kim Bum dan So Eun pun menengok memperhatikan.

“Ibumu akan mendapatkan menantu yang masih anak kecil.. apakah kau begitu bahagia?” Tanya sang perempuan.

“Apa kau sangat takut untuk bertemu ibuku?” Tanya pria itu.

“Tentu, usiamu sudah 33 tahun sementara aku baru berusia 20 tahun. Bagaimana aku tidak takut, kau sendiri tahu betapa orang tua ku tak menyetujui hubungan kita.” Ucap perempuan itu.

“Cinta memang rumit.” Ucap So Eun tiba-tiba sambil kembali mengalihkan fokusnya pada novelnya.

“Cinta tak rumit hanya orang-orang saja yang membuatnya rumit.” Celetuk terdengar suara Kim Bum menyahut.

“Cinta ada, dua orang saling mencintai namun orang-orang disekeliling mereka yang membuat cinta itu rumit. Atau pun ketika cinta ada dan dua orang yang saling mencintai itu ada tapi cinta lain hadir membuat cinta itu terbagi juga membuat cinta tetap rumit.” Ucap So Eun.

“Jika orang yang saling mencintai dan orang-orang disekelilingnya tahu makna cinta sebagai pemersatu bahkan yang tak bisa disatukanpun akan membuat cinta tak menjadi rumit.” Ucap Kim Bum.

“Woa…bahasamu bagus sekali.” Ucap So Eun. “Tapi hal seperti itu tidak akan berpengaruh padaku saat ini, karena aku hanyalah seorang perempuan yang sendiri dan tanpa cinta.” Ucap So Eun.

“Apakah kau orang yang menganggap cinta adalah sesuatu yang paling penting?” Tanya Kim Bum.

“Tentu…menurutmu memangnya itu tidak penting?” Tanya balik So Eun.

“Bagiku, kebersamaanlah yang menjadi penting. Seiring berjalannya waktu cinta akan melebur dalam diri setiap insane dan bahkan kadang bisa berubah menjadi benci dan perasaan takut. Namun kebersamaan, semakin dipupuk maka akan tumbuhlah rasa sayang yang akan memunculkan kebahagiaan yang sejati.” Jawab Kim Bum, So Eun terdiam mendengar jawaban dari Kim Bum.

“Mwo?” Tanya So Eun.

“Karena kebersamaan adalah iktana eomsional anatara kita dan pasangan kita.” Jawab Kim Bum.

“Lalu, apakah ini adalah sesuatu dari hasil kebersamaan yang kau katakan barusan?” Tanya So Eun sambil menunjukan cincin itu pada Kim Bum.

“Aku harap kau bisa melepaskan cincin itu dan membuangnya. Kau tidak bisa memakai cincin itu.” Ucap Kim Bum.

“Waeyo?” Tanya So Eun.

“Karena ini.” Ucap Kim Bum sambil menunjukkan cincin yang melingkar juga di jari tangan Kim Bum.

“Omo..apakah ini?” Tanya So Eun. “Jwosonghabnida…eottohke? Apa yang harus aku lakukan? Pastinya ini akan kau gunakan hari ini bukan?” Tanya So Eun.

“Buang saja nanti. Kau tak perlu bertanya apa-apa lagi.” Ucap Kim Bum, So Eun hanya menatap Kim Bum.

Perbincangan Kim Bum dan So Eun berakhir sampai disitu. So Eun kembali membaca dan tak banyak berbicara apa-apa lagi. Kim Bum kembali mendengarkan lagu seperti tadi. Hingga kereta melewati daerah yang memiliki pemandangan yang indah. So Eun yang duduk disamping jendela langsung tergerak hobi fotografinya. So Eun mengeluarkan kamera dari tas nya. So Eun tak melewatkan objek foto yang mahal dan indah ini. Dia langsung memotret beberapa foto, Kim Bum yang membuka matanya pun melihat apa yang sedang dilakukan oleh teman seperjalannya ini. Kim Bum memperhatikan So Eun yang sedang memotret.

So Eun pun selesai melakukan aktivitas memotretnya. So Eun pun membenarkan posisi duduknya sambil mengecek foto yang baru saja dia ambil dari kameranya. So Eun tersenyum sendiri melihat hasil jepretannya yang bagus.

“Boleh aku melihatnya?” Tanya Kim Bum.

“Ne?” Tanya So Eun.

“Foto yang kau ambil.” Ucap Kim Bum.

“Oh..” Gumam So Eun sambil memberikan kamera itu pada Kim Bum. Kim Bum melihat foto-foto yang baru saja diambil oleh So Eun. Kim Bum mengangguk-anggukan kepalanya terlihat puas dengan jepretan So Eun.

“Bagus sekali, bahkan terlihat seperti hasil editan.” Ucap Kim Bum.

“Jinjja?” Tanya So Eun.

“Ne.” Ucap Kim Bum.

“Apa yang harus aku berikan karena kau telah memujiku?” Canda So Eun.

“Ayahku seorang fotograper, maka dari itu aku sering melihat hasil fotonya. Dan menurutku hasil potretmu tergolong bagus, bahkan ayahku akan setuju jika dia melihatnya juga. Kau tahu objek foto yang bagus.” Ucap Kim Bum.

“Ayahmu seorang fotograper?” Tanya So Eun. Kim Bum menganggukan kepalanya. “Jika ada kesempatan lagi, aku berharap bisa bertemu dengan ayahmu suatu saat nanti.” Ucap So Eun.

“Jika kita bertemu lagi tentunya.” Ucap Kim Bum. “Apa kau ingin menitip sesuatu, aku akan mencari makanan dan minuman.” Ucap Kim Bum.

“Aku…sebelumnya terimakasih. Tapi apapun yang kau bawakan, aku akan memakan dan meminumnya.” Ucap So Eun.

“Baiklah.” Ucap Kim Bum.

Kim Bum pun pergi mencari makanan, sementara So Eun mengambil lagi kameranya. Tiba-tiba ad aide jail muncul, So Eun menyetel timer di kameranya, diapun memotret tangan kanannya yang melingkar cincin milik Kim Bum itu disamping novel yang dia baca itu. Dan BRAVO, gambar yang terambil benar-benar bagus.

“Bagaimana bisa seindah ini?” Tanya So Eun.

“Masih sibuk dengan karyamu?” Tanya Kim Bum yang baru datang dengan dua botol air menral dan makanan berpa telur rebus dan stik cokelat.

“Uwa…” So Eun terlihat girang.

Ige (ini).” Kim Bum memberikan sebotol air mineral.

Khamsahabnida.” Ucap So Eun.

“Telur rebus dan stik cokelat, gwaenchana?” Tanya Kim Bum.

Gwaenchana.” Ucap So Eun.

Kim Bum dan So Eun pun akhirnya menikmati makanan yang dibawa oleh Kim Bum. Pemdangan keduanya yang mengenakan cincin yang sama dijari manis kanan mereka membuat mereka sekilas nampak seperti sepasang kekasih yang sedang bepergian.

“Aku merasa sangat bersalah padamu.” Ucap So Eun.

Mwoga mianhae?” Tanya Kim Bum.

“Karena aku gegabah mengenakan cincin ini yang bahkan sulit aku lepaskan.” Ucap So Eun.

“Tidak apa. Anggap saja jika ini takdir sehari kita, karena ini sudah takdir cincin itu menggelinding ke arahmu, takdir kau memakainya dan takdir kita menjadi teman seperjalanan.” Ucap Kim Bum.

“Takdir sehari. Haruman unmyeong.” Ucap So Eun. “Apa kita tak akan saling berkenalan?” Tanya So Eun.

“Lebih baik kita jangan saling mengenal satu sama lain.” Ucap Kim Bum.

“Sepertinya itu lebih baik, kita tak perlu saling menganl dan mengetahui nama masing-masing. Karena aku tak ingin memikirkanmu dan kelak akan mencarimu.” Lanjut So Eun.

“Senang bertemu denganmu hari ini.” Ucap Kim Bum, So Eun tersenyum.

“Di hari ulang tahunku, aku diberikan hadiah bertemu dengan orang baru sepertimu yang memberika pelajaran hidup baru kepadaku. Gomawo.” Ucap So Eun.

“Ulang tahun?” Tanya Kim Bum.

“Ne, hari ini adalah hari ulang tahunku. 6 September.” Ucap So Eun.

Tuhan, takdir apa sebenarnya ini? Kenapa aku harus bertemu dengannya? Kenapa cincinku harus terpasang dijarinya dan bahkan kenapa hari ulang tahunnya harus sama seperti ulang tahun Seul Gi. Kenapa dia harus pergi ke Chuncheon bersamaan denganku dihari dia berulang tahun. Karena sejujurnya aku berencana pergi ke Chuncheon dengan Seulgi untuk merayakan hari ulang tahunnya sekaligus melamarnya.” Batin Kim Bum.

“Apa yang sedang kau lamunkan?” Tanya So Eun.

“Aniyo.” Jawab Kim Bum.

“Sejujurnya hari ini adalah hari ulang tahunku. Hari dimana aku akan memperkenalkan kekasihku pada keluargaku. Namun, aku tak bisa berada di rumah. Aku tak bisa merayakan ulang tahunku di rumah.” Ucap So Eun.

“Waeyo?” Tanya Kim Bum.

“Karena lelaki itu menghianatiku dengan perempuan lain. Karena aku sudah tak berhubungan lagi dengan kekasihku. Aku tak bisa menghadapi kenyataan jika posisiku di kantor akan tergeser oleh putra pamanku.” Ucap So Eun. “Dan jika kau tahu kalau ayahku mengirim pegawainya untuk mencari keberadaanku disini, maka kau..” Belum selesai So Eun berbicara namun ucapannya terhenti. “Oh My God!!!” Gumamnya.

“Ada apa?” Tanya Kim Bum.

“Para pegawai ayahku ada disini.” Ucap So Eun.

“Dimana?” Tanya Kim Bum.

“Ada di depan, mereka yang memakai seragam hitam-hitam itu.” Ucap So Eun. “Bagaimana bisa mereka sampai melacakku di gerbong ini?” Gumam So Eun.

“Kenapa mereka mencarimu?” Tanya Kim Bum.

“Untuk membawaku pulang. Ayahku mengira jika aku pergi ke Chuncheon dengan kekasihku, padahal kami telah berpisah. Aku tak bisa kembali ke rumah hari ini dan membuat ayahku kecewa karena posisiku di kantor akan ditempati oleh anak pamanku yang telah siap menikah.” Ucap So Eun.

“Ini benar-benar takdir karena kau bisa duduk bersamaku disini.” Ucap Kim Bum.

“Bantulah aku, aku mohon. Jangan sampai mereka mengetahui aku disini.” Ucap So Eun. “jangan sampai mereka meli…” Belum selesai So Eun berbicara, tiba-tiba tangan Kim Bum langsung menyenderkan kepala So Eun ke bahunya.

So Eun’s POV

“Ini benar-benar takdir karena kau bisa duduk bersamaku.” Apa maksud ucapan pria ini, tak ada waktu banyak mereka akan segera berjalan kemari.

“Bantulah aku, aku mohon. Jangan sampai mereka mengetahui aku disini.” Aku mohon bantulah aku, bantulah aku sebisa mungkin. Aku tak bisa pulang hari ini. Aku tak bisa mempermalukan ayahku di depan seluruh anggota keluarga nenek. “jangan sampai mereka meli.” Omo, apa yang terjadi ini. Lelaki ini menyentuh kepalaku lembut dan menyenderkan kepalaku di bahunya. Lelaki ini mengelur rambutku lembut dan penuh kasing sayang seperti ini. Tuhan, kenapa tubuhku serasa hangat tiba-tiba seperti ini. Kenapa belaian pria ini begitu hangat hingga aku bisa merasakan ada rasa sayang yang sampai kedalam hatiku?

“Tidurlah.” Terdengar suaranya dengan lembut ditelingaku. Tidak, gerombolan pegawai ayah kini benar-benar ada dihadapanku, apakah mereka bisa mengenaliku.

“Ada apa?” Pria ini bertanya dengan tegas seperti ini. “Apa kalian mencari seseorang?” Tanyanya. Aku benar-benar meminta perlindunganmu. Tutupi aku sebisa mungkin.

“Pakaian wanita ini seperti nona.” Ucap salah seorang pegawai ayahnya So Eun.

“Dia adalah kekasihku. Dia sedang mabuk perjalanan..bisakah kalian mencari di kursi lain, kekasihku akan merasa sangat tidak nyaman.” Ucap Kim Bum sambil masih mengelus kepala So Eun dengan lembut yang akan membuat wajah So Eun tak terlihat oleh para lelaki itu. Aku bisa melihat kaki mereka melangkah meninggalkan jok kami. Akhirnya aku terbebas dari mereka juga. Aku merasakan belaian hangat ini berhenti mengelus kepalaku. “Mereka sudah pergi.” Ucapnya.

“Ah ne, gomawo.” Ucap So Eun sambil mengangkat kepalanya yang menyender di bahu Kim Bum. Keduanya saling bertatapan canggung.

Kim Bum’s POV

Mengelus rambut wanita yang sedang berlindung padaku ini kenapa membuat hatiku tiba-tiba merasa hangat seperti ini. Sudah lama, sejak aku merasa seperti ini. Perasaan menyayangi, namun tidak mungkin. Ini tidak benar, aku belum lama mengenalnya.

“Mereka sudah pergi.” Aku akhirnya berhenti membelai kepalanya.

“Ah ne, gomawo.” Terdengar suaranya berucap. Dan akhirnya kepala yang menyandar dibahuku itu pun terangkat. Meskipun hanya beberapa menit saja, tapi kenapa aku merasa senang. Kenapa ada perasaan hangat bahkan hanya untuk beberapa menit dia menyenderkan kepalanya dibahuku?

Mataku menatap matanya. Mata kami saling bertemu dan pada akhirnya aku sedkit kalah dalam pertarungan tapa menatap mata ini. Aku mengalihkan pandanganku ke arah samping kiriku sementara aku melihatnya mengalihkan pandangannya pada novel yang dia baca itu.

“Kau pergi ke Chuncheon untuk menghindari keluargamu yang harus menerima kenyataan jika kau berpisah dengan kekasihmu?” Tanyaku, kenapa ada rasa penasaran didirirku seperti ini.

“Bisa jadi..seperti itu.” Gumma So Eun.

“Aku pergi ke Chuncheon untuk melepas kepergian kekasihku yang juga berpisah dengaaku untuk selamanya.” Ucapku jujur. Tidakah kita memiliki nasib yang sama.

“Jadi?? Cincin ini?” Sudah kuduga kau pasti akan bertanya hal ini. Aku bisa melihat ekspresi kaget dari wanita ini.

“Maka dari itu aku mengatakan jika kau buang saja jika cincin itu bisa kau lepaskan.” Ucapku. Aku berniat akan membuang cincin yang bahkan belum sempat dilihat oleh Seul Gi., namun cincin itu malah jatuh tanganmu dan bahkan melingkar dijarimu.

“Cincin itu begitu indah untuk dibuang. Ada ketulusan yang aku rasakan saat aku mengenakannya.” Ucapnya. Dia mensejajarkan tangannya dengan tangan kananku. Terlihat kedua tangan kanan kami yang terdapat cincin itu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya aku bisa melihat cincin ini terpasang seindah ini. Namun, cincin itu bukan melingkar di jari Seulgi. “Aku mengambil sesuatu dengan cincin ini.” Ucapnya. Aku menatapnya. Diapun memberikan kamera kepadaku. Terlihat foto yang sepertinya tadi dia ambil.

“Kau…” Belum selesai aku berbicara, dia tersenyum manis kepadaku.

“Jika cincin ini aku buang, bisakah aku tetap menyimpan foto ini? Foto ini terlalu bagus untuk aku buang.” Ucapnya. Aku hanya bisa menganggukan kepalaku.

Author’s POV

“Kau akan melanjutkan perjalananmu kemana?” Tanya Kim Bum.

“Ke rumah lama orang tuaku.” Jawab So Eun. “Aku ingin menyiapkan hidangan untuk ibuku. Sebagai upacara peringatan hari kematian ibuku.” Lanjut So Eun. “Kau sendiri?” Tanya So Eun.

“Aku akan mendaki bukit.” Ucap Kim Bum.

“Bukit?” Tanya So Eun. Kim Bum menganggukan kepalanya. “Bisakah aku ikut denganmu?” Tanya So Eun.

“Mendaki bukit?” Tanya Kim Bum.

“Sekalian aku mencari objek foto.” Ucap So Eun.

“Sepertinya takdir sehari kita kembali berlanjut lagi.” Ucap Kim Bum, So Eun langsung tersenyum senang karena ucapan Kim Bum berate mengiyakan permintaan So Eun.

Akhirnya kereta pun tiba di chuncheon juga. Kim Bum dan So Eun beriringan turun dari kereta. Karena Kim bum sepakat mengajak So Eun mendaki, akhirnya keduanya pun melanjutkan perjalanan untuk bisa sampai di kaki bukit yang akan didaki oleh keduanya.

“Wuaaa…bagus sekali.” Ucap So Eun sambil menjepret lagi foto bukit dihadapannya.

“Aku berencana merayakan ulang tahun dia disini hari ini.” Ucap Kim Bum, So Eun menatap Kim Bum.

“Lalu bagaimana, karena hari ini kau mendaki denganku?” Tanya So Eun.

“Karena kau juga berulang tahun bukan?” Tanya Kim Bum.

“Lalu?” Tanya So Eun.

“Fotolah..bukankah objeknya begitu bagus?” tanya Kim Bum,

“Aku sudah memotretnya.” Ucap So Eun.

“Huh?” Tanya Kim Bum.

“Kau juga objek foto yang bagus rupanya.” Ucap So Eun jail.

“Untung aku tak tahu namamu.” Ucap Kim Bum.

Mereka berdua memulai pendakian mereka. So Eun terlihat sangat bersemangat sekali mendaki. Tak terlihat ada perasaan lelah di wajahnya. Dia sibuk memotret. Sementara Kim Bum sibuk mendaki, namun sekalinya dia menatap aktivitas teman seharinya ini, selalu terlihat cincin yang melingkar di jari manisnya itu. Kim Bum pun menatap cincin yang melingkar di jari manisnya juga.

Setelah pendakian selama 2 jam lebih itu, akhirnya keduanya sampai di puncak bukit. Terlihat pemandangan begitu itu dari atas. So Eun terlihat sangat senang sekali, dia juga begitu sibuk mengambil foto.

Oneureul gomawoso.” Ucap So Eun.

“Aku juga berterimakasih, karena aku mendaki bukit ini tak sendiri.” Ucap Kim Bum.

“Meskipun seharusnya bukan denganku.” Ucap So Eun.

“Tapi aku melakukannya juga.” Ucap Kim Bum. “Chankanmanyo (sebentar).” Ucap Kim Bum.

Eodilgayo (kau pergi kemana?)” Tanya So Eun yang melihat Kim Bum pergi sejenak.

So Eun fokus kembali dengan aktivitasnya mencari objek foto. Sementara itu Kim Bum tengah mempersiapkan sesuatu. Tak lama Kim Bum kembali lagi ke tempat dimana ada So Eun.

Saengil chukka habnida..Saengil chukka habnida..saengil chu~~~ka habnida..saengil chukka habnida.” Kim Bum datang menghampiri So Eun sambil bernyanyi lagu ulang tahun dengan sebuah tumpukan batu yang diselipkan sebuah ranting dengan untaian bunga liar cantik di batu tersebut yang diperumpamakan sebuah kue. So Eun tersenyum.

“Uwa…” So Eun tak bisa berkata apa-apa karena tak menyangka akan mendapatkan hal seperti ini dari orang yang baru sehari dia kenal.

“Meskipun aku tak ingin merayakan sebuah ulang tahun di hari ini, namun kau yang datang bersamaku juga berulang tahun hari ini.” Ucap Kim Bum.

Jinjja yeppeuda.” Ucap So Eun. “Gomawoso.” Lanjut So Eun.

“Kau tak akan meniup lilinnya??? Ini akan meleleh nona yang tak ku kenal namanya.” Ucap Kim Bum bercanda. So Eun tersenyum atas candaan Kim Bum. Dia pun berpura-pura seolah meniup lilin ketika meniup ranting tersebut.

“Apakah kalian berdua ingin aku fotokan?” Terdengar suara seorang pria yang sepertinya memperhatikan keduanya dari tadi.

Ne?” Tanya Kim Bum.

“Bolehkah?” Tanya So Eun.

Geurae.” Jawab Kim Bum.

Akhirnya So Eun memberikan kameranya pada lelaki itu. Kim Bum dan So Eun bersampingan sambil Kim Bum memegangi tumpukan batu tersebut yang dibuat seperti kue. Keduanya pun akhirnya berfoto bersama.

Tak terasa sudah sore juga. Keduanya pun akhirnya memutuskan untuk turun dari bukit sebelum kabut turun. Sampai akhirnya keduanya tiba di kaki bukit lagi.

“Aku tak jadi membuangnya.” Ucap Kim Bum.

“Kau tak perlu membuangnya untuk melepaskannya. Biarkan ini menjadi kenangan manismu dengannya.” Ucap So Eun.

“Mungkinkah akan seperti itu?” Tanya Kim Bum.

“Dan dengan ini…” Ucap So Eun sambil menunjukkan cincin di jarinya. “Jika aku bisa melepaskannya nanti, bisakah aku tak membuangnya?” Tanya So Eun.

Mwo?” Tanya Kim Bum.

“Jika kita ditakdirkan untuk bertemu kembali, entah kapanpun itu. Maka aku akan mengembalikannya padamu supaya cincin itu ada temannya lagi.” Ucap So Eun.

“Jika itu yang kau anggap lebih baik.” Ucap Kim Bum.

“Karena jikapun cincin ini harus dibuang, maka bukan akulah yang berhak membuangnya. “ Jelas So Eun. Kim Bum menganggukan kepalanya.

“Sepertinya pertemuan sehari kita akan berakhir sampai disini.” Ucap Kim Bum.

“Seperti itulah.” Jawab So Eun sambil tersenyum. “takdir sehari, pertemuan sehari dan teman sehari.’ Lanjut So Eun.

“Dan kita akan tetap merahasiakan identitas kita.” Ucap Kim Bum.

“Tentu..” Ucap So Eun. “Ini…simpanlah.” Ucap So Eun sambil memberikn novelnya.

“Huh?” Kim Bum tak mengerti.

“Simpanlah ini sebagaimana aku memakai cincinmu ini. Anggap ini ucapan terimakasihku karena kau bersedia menginjinkanku ikut kemari dan kau merayakan ulang tahunku.” Ucap So Eun. Kim Bum meraihnya dan keduanya tersenyum.

“Baiklah..sampai disini. Kita berpisah. Jaga dirimu baik-baik.” Ucap Kim Bum. Keduanya oun akhirnya berpisah. Mereka berjabat tangan dan berjalan memunggungi satu sama lain. Namun suara Kim Bum menghentikan langkah So Eun.

“Jika kita ditakdirkan untuk bertemu lagi, entah kapanpun itu, biarkan aku mengenalmu.” Ucap Kim Bum.

“Jika kita ditakdirkan untuk bertemu lagi, entah kapanpun itu, biarkan aku juga mengenalmu.” Jawab So Eun. Keduanya saling tersenyum dan melambaikan tangan.

Kim Bum melanjutkan perjalanannya sendirian menuju beberapa tempat yang dulunya direncanakan akan dia datangi bersama dengan Seulgi di chuncheon. Sementara So Eun melanjutkan perjalanannya menuju rumah ibunya dan memasakan hidangan untuk upacara kematian ibunya.

6 bulan kemudian

 

So Eun berjalan bersama dengan seorang perempuan. Keduanya sedang berada di Chuncheon untuk pameran foto yang digelar oleh So Eun.

“Seperti takdir, aku kesini lagi setelah 6 bulan.” Ucap So Eun.

“Memangnya eonni pernah kemari juga?” Tanya perempuan bernama Sol Bi.

“Sekitar setengah tahun yang lalu.” Ucap So Eun.

“Eonni, sebenarnya ada hal yang ingin aku tanyakan.” Ucap Sol Bi. So Eun menatap Sol Bi. “Sebenarnya cincin itu cincin pemberian siapa, hingga tak pernah eonni lepaskan??? Apa dari mantan kekasihmu?” Tanya Sol Bi. So Eun tersenyum.

“Bahkan meskipun aku sudah menurunkan berat badanku, tapi cincin ini tak lepas dari tanganku.” Ucap So Eun. “Ini cincin yang seharusnya terbuang tapi malah melingkar di jariku.” Ucap So Eun. “Sol Bi-ya.” Gumam So Eun.

Ne.” Jawab Sol Bi.

“Ada tempat yang ingin aku datangi. Kau duluan saja ke hotel nya..nanti aku akan menyusul.” Ucap So Eun.

“Baiklah.” Ucap Sol Bi.

So Eun berjalan mencari taksi yang bisa membawanya ke sebuah tempat yang ingin dia kunjungi ketika dia mendengar kabar jika dia diundang untuk membuat pameran di Chuncheon. Akhirnya So Eun tiba di kaki bukit yang pernah dia daki bersama dengan Kim Bum. So Eun keluar dari dalam taksi dan dia berjalan menuju tempat dimana menjadi tempat berpisah dia dan Kim Bum waktu itu. So Eun terus berjalan hingga terlihatlah bagian belakang seorang pria yang berdiri tepat di tempat Kim Bum berdiri waktu itu.

“Apakah mungkin dia? Tidak mungkin.” Gumam So Eun.

“Mungkin atau tidak mungkin???” Ucap So Eun.Namun langkah So Eun terhenti ketika melihat tangan pria itu yang kebawah dan menunjukkan jika pria itu memegang sebuah buku. Buku yang taka sing baginya. Novel, novel yang dulu So Eun baca ketika bertemu dengan Kim Bum. Novel berjudul Unmyeong cheorom neol saranghae (Ditakdirkan untuk mencintaimu). “Tidak mung..” Belum selesai So Eun berbicara, lelaki itu pun berbalik dan alangkah terkejutnya keduanya ketika sama-sama melihat. Benar saja jika lelaki itu Kim Bum.

“Kau..” Gumam So Eun.

“kau…yang waktu itu.” Ucap Kim Bum.

“Bagaimana bisa ini terjadi?” Tanya So Eun. Kim Bum terlihat tersenyum dan mengangkat novelnya serta menunjuk tulisan di cover itu [ditakdirkan]. So Eun tersenyum.

“Masih melingkar dijariku…meskipun aku telah menurunkan berat badanku, tapi tanganku sepertinya tak menjadi kecil.” So Eun menunjukkan cincin di jari manis kanannya.

“Cincin ini juga masih melingkar ditanganku.” Ucap Kim Bum. Keduanya saling tersenyum.

“Apakah kau menginjinkanku untuk mengenalmu sekarang?” Tanya Kim Bum.

“Apakah kau juga menginjinkanku untuk mengenalmu sekarang?” Tanya balik So Eun. Keduanya akhirnya saling tersenyum.

THE END

51 Tanggapan to “HARU”

  1. christin51194 7 September 2014 pada 11:43 PM #

    Wahhh so sweet bangett.. Cinta yang berawal dari cincinn….
    Hahahaa bumsso keren banget..
    Daebak

    • koreancoupleff 7 September 2014 pada 11:58 PM #

      gomawo chingu dah baca cerpen ini….
      makaish dah ngomen juga^^

  2. My Fishy 8 September 2014 pada 12:05 AM #

    huwaaa.. bener2 takdir yg mempertemukan kim bum dan so eun, bagus ceritanya chingu, suka banget dengan pertemuan mereka lagi yg sama2 memakai cincin itu..

    • koreancoupleff 8 September 2014 pada 12:06 AM #

      makasih dah baca chingu dan komen
      ditunggu karya lainya dari aku yah^^

  3. fitrimadonakyusso21 8 September 2014 pada 12:11 AM #

    Pertemuan 1 hari yg mentakdirkan bumsso bersatu❤
    So sweet banget thor ending yg bahagia❤

  4. Sary ajow 8 September 2014 pada 12:42 AM #

    Huwaaaa nden keren bingittttt…
    manis ampuuunn…kyak pilem romance,,
    tp kim bum ada cewek lain di hati..
    itu endingnya sengaja bgt di gituin..
    pasti byk yg koment kalo itu ngeGantung ahahahah…
    pikirQ blom the end td, cepet bgt nden kuraaaang wkwkwk

  5. Safriyanti 8 September 2014 pada 12:54 AM #

    So sweeettttt,,,,
    bnar2 takdir mpertmukan bumsso dgn cra yg unik,,,
    to cincin ajaib bnget ampk gk mau trlpas dr tngan sso,,
    mank dh jdoh n tkdir cincin to dtngan sso,,,
    hwaaaaaa sngguh prtmuan yg unik tnpa mngnal nama stu sma lain,a,,,
    akhr,a takdir mprtmkn bumsso kmbli,,,
    saengil chukae hamnida uri sso,,

  6. yulie_bumsso 8 September 2014 pada 1:05 AM #

    wuaaaa eon nden selalu bisa bikin senyum sndirii jika bkin ff..:) ceritaanyaa pas sekaliii,komplit dehh eon benaran..so sweet sekalii yah..dengan takdir merkaa di pertemukan lagii..ahh so sweet n Bumsso..cincin itu gak mau lepas dri jari so eun..sdah sperti mmang so eun lah pmilik sah nyaa..jiahh eon..kata perkata itu seperti mengandung makna sndrii..:) benaran pas bget ff inii..feel n dpatt sekalii..merekaa bertemu di hari ultah so eun..dan tdak sling mengnal stu sma lainnyaa..jiahhh itu so sweet sekalii..dan bertemu..ahhh pokoknyaa sukaaa benaran eon..daebakk!! lnjutt ff baru n..kkk semangat eoonie..

  7. fitalia utami putri 8 September 2014 pada 1:20 AM #

    benar” takdir yang mempertemukan mereka… setelah keduanya sama” kehilangan kekasih,, akhirnya mereka dipertemukan tanpa sengaja… keren bnget eon (Y)… aku suka🙂 ending yg bahagia…

  8. Baechiato 8 September 2014 pada 1:22 AM #

    wah, ternyata ada ff baru nih
    so sweet banget
    bermula dari kegegabahannya soeun pake cincin yg mau dibuang kim bum akhirnya mereka merasakan takdir sehari bersama
    endingnya… Suka. Tapi nanggung sih, maunya sampe mereka nikah hehehe
    bagus, sukaaa. Emang takdir bumsso bertemu nih
    ditunggu karya selanjutnya ^^

  9. Kim Na Na 8 September 2014 pada 3:02 AM #

    Takdir😀 ,Nae suka ceritanya,Kita emang tak tahu apa yang terjadi ke depan , BumSso mengalami kisah sedih karna itu pula BumSso bertemu🙂

  10. dara 8 September 2014 pada 7:27 AM #

    Mereka memang ditakdirkan bertemu lagi untuk bisa saling mengenal dan akhirny bersama.

  11. Nophy Bummiesangel's 8 September 2014 pada 8:48 AM #

    Hwaa….kereeeeennn banngggeeeet…. suka..suka..
    Berawal dari cincin..dan menjadi teman seharin…dan berujung menjadi pengenalan…
    Bener2 so sweet saat merayakan ultah.y…

    D.tunggu karya selanjut.y….

  12. nuribumsso 8 September 2014 pada 10:40 AM #

    eonni,, jinja jinja daebak ^_^ suka bnget sm ceritanta,, walaupun di sini bumsso gk jdi couple, tpi magnet cinta mrka kuat bnget,,dan berhasil buat nuri terbawa suasana yg mengharukan dri kisah cinta mrka berdua… daebak eon.. good job,,, overall feelnya dapet bnget,, klimaks cerintanya jg benr2 dibuat percaya loq udah takdir itu, pasti apapun itu akan terwujud..🙂 ditnggu karya2 berikutnya eon ^^ fighting🙂

  13. puti_bumsso 8 September 2014 pada 11:17 AM #

    daebak.keren sebuah takdir cinta.
    pertemuan yang ditakdirkan dan cinta yang ditakdirkan..
    ditunggu ff bumsso selanjutnya😀

  14. teyz 8 September 2014 pada 2:43 PM #

    aku suka crtany romantisss bngettt…ahhh jd kebayang bisa yah tu cincin ga bsa lepas dasar udh takdir

  15. puti_bumsso 8 September 2014 pada 5:45 PM #

    daebak..
    semuanya melibatkan takdir…
    pertemuan dan cinta semuanya dengan takdir…
    ditunggu ff bumsso lainnya..
    oenni bleh pesan ff bumsso nggak?

  16. Desy 8 September 2014 pada 7:25 PM #

    Waah ceritanya keren baget ……
    SPnya dong eon…..

  17. vonnysumali 8 September 2014 pada 9:14 PM #

    aku suka walau berharap selalu ada pernyataan cinta di antara mereka, tetapi itulah yang membuat sebuah cerita tampak berbeda bukan????

  18. Ran Mouri Huan 8 September 2014 pada 9:19 PM #

    weew ini seulgi yg di red valvet itu kah? hehe agak kaget jg loh ka nden tiba2 udh end aja, akhiran ceritanya blm greget eh udh end *readerserakah huehehe eh tp bner2 takdir yg ditentukan Tuhan bisa ketemu ky gt, mknan yg di bawa kim bum hd ibget mknan yg di bawa junho pas di music lyric deh wafer, telur rebus huehehe jd oot, ku tunggu karya ka nden lainnya, teaser yg wkt itu ga jd di buat ya ff nya

  19. anna 8 September 2014 pada 11:44 PM #

    ciecie bumsso akhrny mo slg mngenal,,one step closer,,klo sdh jdoh mmg tak akn kmn,,pertemuan mngesankn yg mmbw anugrah,,

  20. N.A 9 September 2014 pada 7:24 AM #

    benar-benar dipertemukan oleh takdir…

  21. lisasasmitha 9 September 2014 pada 9:54 AM #

    Daebak daebak daebak eon😀
    Wahh berawal dari cincin, pertemuan 1 hari, itu semua awal dari takdir yang menyatukan mereka ahhh so sweet bangettt dan akhirnya takdir memepertemukan mereka lagi jodoh memang ga kemana walaupun dipisahin pasti bakalan ketemu lagi…
    Oh iya saeng il chuka hamnida bukan saeng il chuka habnida setiap huruf “b” ketemu huruf “n” itu jadi “m” kaya gamsahamnida hangeulnya memang gamsahabnida tapi dibacanya gamsahamnida.
    Ditunggu ff lainnya eon, hwaiting^^

  22. unniechan 9 September 2014 pada 10:40 PM #

    cerita yang sangat manis eon,, maaf baru sempat baca sekarang,,, senyum sendiri bacanya hehehehe,,, ditunggu karya selanjutnya ya,, FIGHTING!!!😉

  23. Puji Zulfia 10 September 2014 pada 7:17 AM #

    Hampir tanpa konflik, ceritanya ringan. ngalir aja ngikutin arusnya. Gmana mereka semula nggak ingin saling kenal tapi kembali ditemukan di saat yang sama lagi. Romantis dan menyentuh hati. Daebak eon. Eoh kelupaan tumben eonni ngepostnya di wp

  24. Anjany Djamal 10 September 2014 pada 7:07 PM #

    ahh,, sweet banget. bener-bener cinta yg didatangkan lewat cincin. buat squel dong…

  25. Indah Eka Safitri 10 September 2014 pada 8:28 PM #

    Wah, so sweet bnget. Di prtmukan dan d prsatukan ole takdir. Trnyata mreka brdua nggk bsa mlupkan stu sma lain.

  26. Elryeleekim_kim 11 September 2014 pada 12:09 AM #

    Huaaaaaaaaa… Kebetulan macam apa yang muanis gini.. #bikinIri
    ku g tau mesti coment p?? Yg ada di pikiran ku cm?? Aku iri sm takdir mereka yg unik..
    Eonni… Mianhae y ku dh lm g bc ff eonni nenden hehehe… Pi klu d ff bru tag donk eon..
    Eon ku mo t’y ff eon yg so eun eonni g lulus kuliah trus bum pp yg jd dosen tu dh di lanjut belom??

  27. Chachicha 13 September 2014 pada 10:26 AM #

    Huwah eon..
    Keren bingitttss..
    So sweet lgi..
    Takdir yg mempertemukan bumsso.. Yg berawal dri cincin..
    Daebak eon ^^

  28. Meshinta Kim 14 September 2014 pada 3:35 PM #

    aaaaa.. nangguuuunnnggg.. seruuu seruuu.. takdir memang tak bisa dilawan.. takdirnya bumsso memang harus bersama.. xixixi.. entah kenapa suka sekali sama adanya cincin dan novel di cerita ini.. barang yang menghubungkan kim bum dengan so eun.. rasanya kurang puas kalo ceritanya segini doang.. belum sampai puncaknya nih.. yh walaupun mereka udah ketemu pun udh cukup.. tapi alangkah lebih manis kalo mereka makai cincinnya terus sampai nikah.. dan novelnya jdi saksi perjalanan cinta mereka.. takdir satu hari mungkinkah bisa berubah jadi takdir selamanya? who knows.. tergantung authornya nih mau ngelanjutin nggak yh? lanjutin dong eonni ^-^-^

  29. Sefti ria kkys 16 September 2014 pada 5:08 PM #

    Gara2 cincin akhir.a bumsso ketemu,So sweet bgt <3… Cerita.a seru bgt tp kok ngegantung?? Sp dong thor🙂

  30. Katsu 16 September 2014 pada 7:28 PM #

    Keren bingit’z bumssony
    Daebak…

  31. sugarsoya 18 September 2014 pada 2:01 AM #

    Ndenn mian baru baca + komen, baru liat catatan fb, hehe…
    Ceritanya keren, kaya cerita di novel2 romance…. bumsso bener2 dipertemukan oleh takdir….
    Cincin bum yg seharusnya buat seul gi tapi akhirnya melingkar di jari sso itu takdir, bumsso jadi temen seperjalanan juga takdir, bumsso mendaki bareng itu juga takdir, dan pada akhirnya takdir mempertemukan mereka lagi di kaki bukit tempat mereka berpisah, padahal mereka ga pernah merencanakannya, karna ini semua direncanakan oleh tuhan, huaaaa so sweet banget nden beneran deh….🙂 kerenn! Ditunggu next ff kamu yahh, ditunggu banget lohhh….^^

  32. insankamilrabery 19 September 2014 pada 8:31 PM #

    Ahhhh…..so sweet banget deh…..
    Suka….suka….suka

  33. Irma Natalic 20 September 2014 pada 10:41 AM #

    Ommoo kerennnn sekaliiiii eonn ndennn,,,,daebakkk,,,,,unikkkk bangettt eritanyaaaa,,,huaaaaaa,,,jodoh memang tak kemana,,,,bumsso sudah ditakdirkannnnnn,,,,bagus eon ndennn

  34. kmajng9972 20 September 2014 pada 12:26 PM #

    aiiii… pertemuan yang ga disengajaaaa😄 aaa eonni bikin sequelnya yaaaa pleaseeee~~~ ditunggu karya selanjutnya eonni~~ hwaithing!!!!

  35. Adyani mbem 20 September 2014 pada 11:11 PM #

    Takdir emankk gk bisa di pungkiri ketika takdir sudah menyatukn seseorng dngn cara apapun pasti akn bertemu …huaaa eonn ne ceritax keren bngt dahh ..ampe terharu bacax

  36. Sintia Park 23 September 2014 pada 8:06 AM #

    Seruuuuuuuu! Aku suka banget ceritanya. Bener2 mereka berdua ketemu karena takdir yaaa. Aku suka deh di cerita pendekatan kedua tokohnya bener bener natural hehehe. Terus juga hal2 yg ada di cerita, novel yg berkaitan sama takdir, cincin, semuanya menyatu. Bikin lagi yaaa onni sekuelnya hehehe. Good work! 화이팅

  37. wie6002 24 September 2014 pada 9:18 PM #

    so sweet ,romance
    Takdir cinta bumsso

  38. newranattybumsso 26 September 2014 pada 5:57 AM #

    Berasa kyk baca novel,, romance nya ada, puitis pula,,,
    Endingnya masih bikin penasaran kkk

  39. rezi 25 Oktober 2014 pada 10:22 PM #

    mmm…..takdir y mempertemukan kembali, suka ceritanya….berawal dr cincin, pertemuan sehari y mengesankan….

  40. Yumna Arinda Putri 22 November 2014 pada 2:05 PM #

    salam kenal chinguuu,,aku reader baru di blog ini ^_^
    wah baru baca 1 cerpen aku langsung suka sama ceritanya….kereeeeeennnn bgt chingu, ceritanya ringan tapi dpt bgt feelnya..aku sukaaaaaaaaaaaaaaaa ^_^
    bumsso emang slalu spektakuler deh🙂
    aku tunggu karya lainnya ya chinguuuu,,fighting!!!!!!

  41. M wiwin miks 20 Desember 2014 pada 8:28 PM #

    so sweet banget,, bagus banget aku suka ceritanya

  42. Ne yan 23 Desember 2014 pada 12:50 PM #

    Aaah seru, romantis…
    Bikin SPnya dong…
    Karya yang lain pun di tunggu yaaaa

  43. laila_annisa 8 Januari 2015 pada 10:18 AM #

    Aaaiigggoo jadi keduanya sama” galau😀
    Yang satu di khiyanati yg satunya di tinggal untuk selamanya🙂
    Tapi endingnya kura memuaskan😦
    Tapi ingga apa-apa deh😀

    Terus berkarya😉

  44. Burning Sal's 16 Januari 2015 pada 9:45 AM #

    ceritanya keren banget eonnn berasa kayak baca novel” romance😀
    aku suka sama endingnyaaaaaaa dae to the bak daebakkkk eonn (y)
    ditunggu ff selanjutnya eon jangan kelamaan hiatus yaaa wkwkwk😀
    *SAL

  45. 김 현수 17 Februari 2015 pada 11:42 PM #

    dan pada akhirnya mrka ditakdirkan untuk bertemu kmbali…

    hua… cerita yg sangat bagus chingu… q suka…

    benar2 keren… ^^

  46. Zee 1 April 2015 pada 1:02 AM #

    Baru nemu nih ff… Keren..so romantic, so sweet…
    Msh ada lanjutannya kah??

  47. yuyu 31 Mei 2015 pada 3:50 PM #

    huaaa cerita ny sweet.. suka😀 ending ny jg gak ngecewain.. tp rada kurang puas sm ending ny.. pengen ny sihh smpe mereka jadian cerita ny.. tp gak papa tetep bagus kog..

  48. mandasari31 25 Juli 2015 pada 4:17 PM #

    Sumpah kk keren banget ff nya … terharu banget bacanya … takdir yang telah mempertemukan mereka kembali …cincin yg di pakai oleh kim so eun yg bisa di lepas meski berat badannya pun sudah menurun,,,mungkin..itu takdir yg agar mereka bersatu slamanya .
    Sharangae bumsso
    I love you
    Aku makin mengidolakan kalian
    BUMSSO

  49. Bummell Harume 15 Agustus 2015 pada 11:28 AM #

    Waduuuhhhh….

    Kagak kerasa bangettt nih udah end..

    Pokok,y inimah bagus bangeeeetttttt…..

    Takdir yang sejati memang tak terduga deh..

    Adakah takdir seperti itu datang menghampiriku juga,,,
    gkgkgk… #ngawurrr…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: