The Love For Happy Together Part.4

25 Sep

Pagi hari telah tiba. Untunglah hari ini adalah hari libur. So Eun pun bangun dari tidur lelapnya. Selama ini dia terus membebani perasaannya. So Eun melihat keluar dari jendela. Terlihat para pelayan sedang sibuk membersihkan rumah-rumah bahkan memangkas rumput.
So Eun tersenyum melihatnya. Dia jadi ingat dengan pesan Hyun Joong.

”So Eun. Kalau kau memang ingin bahagia, ceria, dan selalu tersenyum tanpa beban. Maka kau harus lupakan semua masalah yang membebani perasaanmu. Kau harus bisa meyakinkan dirimu bahwa masih ada jalan terbaik yang sedang menunggumu. Kau jangan terlalu memikirkan masa lalu. Pikirkanlah masa depanmu.”
So Eun tersenyum mengingatnya. Berkatnya, kini pikiran dia bisa kembali segar.

”Uhm…. rasanya hari ini aku ingin jalan-jalan keluar.”batin So Eun sambil menuju ke kamar mandi.

So Eun terus berjalan menyusuri kota-kota bahkan kampusnya. Sudah lama sekali dia tidak merasakan suasana pagi yang segar. Namun tiba-tiba ditengah jalan dia bertemu dengan Hyun Joong.
”Kim Hyun Joong.”

Hyun Joong hanya tersenyum melihatnya. Lalu menghampirinya.
”Bagaimana? Sudah baikan? Ini pertama kalinya aku bertemu denganmu dalam keadaan ceria.”ujar Hyun Joong.
So Eun hanya terdiam malu. Lalu mereka pun jalan bareng.
“So Eun.”
“Iya?”
“Jika kalau ada seorang pria lain menyukaimu. Akankah kau akan membuka hati untuknya?”
So Eun terdiam.
”Aku tidak tahu, Hyun Joong.”
Hyun Joong kembali terdiam. Mereka terus menikmati perjalanan mereka.

So Eun kembali memikirkan perkataan Hyun Joong tadi pagi.
”Kenapa dia bisa mengatakan seperti itu? Pria lain ya?”batin So Eun sambil memperhatikan fotonya bersama Kim Bum. Tidak lama dia tersenyum kembali.
”Aku tidak boleh sedih kembali. Biarlah takdir yang menentukannya. Aku yakin kalau dia bukan takdirku. Mungkin ada orang yang lebih baik darinya yang akan jadi takdirku. Maafkan aku, Kim Bum. Aku tidak tahu apakah kau sudah tahu tentang perasaanku? Yang pasti aku berterima kasih kepadamu karena kau sudah membuat hidupku jadi berwarna.”ujar So Eun sambil menyemangati dirinya.
Lalu So Eun mencium foto itu. Tiba-tiba air mata keluar dari mata indahnya. Kemudian So Eun menaruh foto itu kedalam lacinya. So Eun menuju kekasur. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dan dia pun tidur dengan lelap.

*****

So Eun terus berjalan melewati taman. Tiba-tiba perutnya berirama.
”Aduh. Rupanya perutku sudah mulai lapar. Tadi memang tidak sempat sarapan.”
So Eun langsung menuju ke kafe. So Eun telah sampai di tempat kafe. Lalu dia memesan roti dan jus. Tiba-tiba dia melihat Kim Bum sedang duduk sendirian dengan wajahnya yang murung. So Eun mengernyitkan dahinya.

”Kim Bum. Kenapa dia jadi muram begitu?”
”Ini pesanan anda.”kata pelayan kasir itu.
”Oh. Iya.” So Eun mengeluarkan beberapa lembaran won dan membayarnya. Lalu dia membawa pesanannya menuju ke Kim Bum.

”Kim Bum.”panggil So Eun.
“So Eun?” Kim Bum tertegun melihat kedatangan So Eun.
“Boleh aku duduk disini?”Tanya So Eun. Kim Bum melihat So Eun membawa makanannya.
“Oh. Iya. Silakan.”jawab Kim Bum. So Eun pun duduk dihadapannya.
”Maaf aku makan duluan. Karena aku sedang lapar sekali.”ujar So Eun sambil menunjukkan rotinya. Kim Bum tertawa kecil.
”Silakan.”
So Eun pun memakan roti itu dengan lahap sambil minum jusnya.
”Pelan-pelan saja makannya. Nanti kau bisa tersedak.”peringat Kim Bum yang agak panik melihat So Eun makan dengan terburu-burunya.
”Uhm… tidak apa-apa. Habisnya memang lapar sekali.”ucap So Eun sambil makan dengan belepotan. Kim Bum jadi tertawa melihatnya.
”Hahaha…. So Eun. Rotinya menempel dibibirmu.” Kim Bum membersihkan sisa roti di bibirnya. So Eun yang masih memegang minuman jusnya hanya terpana dan terdiam diperlakukan Kim Bum. Hatinya kembali bergetar.
”Ah. Tidak boleh. Aku tidak boleh begini lagi.”batin So Eun sambil menggeleng kepalanya. Kim Bum terkejut melihatnya.
”Ada apa, So Eun?”tanya Kim Bum heran.
”Oh. Tidak apa-apa.” So Eun tersenyum sambil menghabiskan minumannya.

Akhirnya So Eun pun telah menghabiskan makan siangnya. Kini perutnya pun kekenyangan.
”Ah! Kenyang sekali perutku ini.”celetuk So Eun sambil memegang perutnya.
Kim Bum tertawa lagi.
”Kau kan memang suka makan banyak. Tapi kaget juga ya, berat badanmu tidak naik lagi.”sindir Kim Bum.
”Ah kau ini! Apa maksudmu?” So Eun kesal mendengar sindiran Kim Bum.
Lagi-lagi Kim Bum tertawa. So Eun hanya tersenyum melihatnya.
”Oh iya, Kim Bum. Kenapa kau sendirian disini? Mana Ji Yun?”tanya So Eun.
Senyuman Kim Bum kini memudar. So Eun mengernyitkan dahinya.
”Ada apa, Kim Bum? Kalian bertengkar?”tanya So Eun mulai panik melihatnya.
Kim Bum menggeleng.
”Tidak So Eun. Aku hanya heran saja. Sejak pertunangan kami, dia mulai berubah.”
So Eun tertegun mendengarnya.
”Berubah bagaimana, Kim Bum?”
”Kau tahu ini hari sabtu kan dan sebentar lagi malam minggu?” So Eun mengangguk.
”Setiap malam minggu, ketika aku mengajaknya date. Pasti dia selalu tidak bisa.”
”Hah? Kenapa?”
”Justru itu, aku tidak tahu. Katanya sih ada urusan. Tapi apakah harus selalu tiap malam minggu dia pergi hanya untuk urusan lain?”jenaknya. Kim Bum kembali meminum kopinya.
So Eun heran mendengar perkataan Kim Bum.
”Aku kira hubungan kalian selalu bahagia.”celetuk So Eun. So Eun langsung menutup mulutnya.
”Dasar! Untuk apa aku bicara seperti itu yang sudah tahu jawabannya? Dasar bodoh.”gumam So Eun sambil memukul kepalanya sendiri.
Kim Bum yang mendengar gumamannya hanya bisa tertawa. So Eun jadi heran melihatnya.
”Maaf ya, Kim Bum.”
”Haha… tidak apa-apa, So Eun. Aku maklum. Kita kan sudah lama tidak bertemu.”
So Eun terdiam.
”Tapi ini tidak seperti yang kau kira. Memang kami selalu menunjukkan kebahagiaan kami kepada kalian. Padahal sebenarnya tidak selalu seperti itu.”ujar Kim Bum kembali murung. So Eun jadi penasaran.
”Maksudmu?”
”Kadang aku merasa, apakah Ji Yun benar-benar mencintaiku? Walaupun usahaku yang dulu berhasil mendapatkannya. Apalagi kami sampai tunangan. Tapi entah kenapa Ji Yun hanya mementingkan urusannya yang lain dibandingkan denganku.”kata Kim Bum.
So Eun tertegun mendengar curhatan Kim Bum.
”Bagaimana dia bisa berpikir begitu?”batin So Eun.
”Sudahlah. Kau tidak usah terlalu memikirkan urusan kami.”ujar Kim Bum sambil tersenyum. So Eun hanya bisa terdiam.
”So Eun.”
”Iya?”
”Bagaimana kalau kau yang menemaniku malam minggu ini saja?”
”Apa?”
So Eun tertegun mendengarnya.
”Tapi apakah Ji Yun tidak marah?”
”Untuk apa dia marah. Kau kan sahabatnya, sahabatku juga. Jadi untuk apa alasan dia marah denganmu.”ucap Kim Bum.
So Eun terdiam menunduk. Kim Bum tidak tahu kalau Ji Yun tahu perasaan So Eun yang menyukainya. Dia tidak mau mengkhianati perasaan Ji Yun.
”Ayolah, So Eun. Kau mau kan?”bujuk Kim Bum.
So Eun masih terdiam.
”Kau harus mau. Tidak boleh menolak!”
Kim Bum langsung menarik tangan So Eun keluar. So Eun terkejut.
”Ta..tapi Kim Bum!”
Kim Bum tidak mau mendengarnya. Dia membawa So Eun masuk ke dalam mobilnya.
So Eun hanya bisa pasrah. Kim Bum tersenyum melihat So Eun yang mulai menerima ajakannya. Dia pun menghidupkan mobilnya. Mereka pun berangkat.

Hyun Joong sedang berjalan menuju ke parkirannya. Tiba-tiba dia melihat mobil Kim Bum melewatinya dan So Eun duduk didalamnya.

”Kim So Eun.” Hyun Joong terkejut melihatnya.
”Hyun Joong!”teriak Min Jung. Lalu Min Jung berlari ke arah Hyun Joong.
”Apa kau lihat So Eun?”tanya Min Jung.
”Tadi aku lihat dia sedang pergi bersama Kim Bum.”
”Hah? Benarkah?” Min Jung terkejut. Hyun Joong hanya mengangguk.
Sebuah mobil sport kuning berhenti disamping mereka.

”Kim Joon?”panggil Min Jung setelah melihat Kim Joon menurunkan jendela mobilnya.
”Sayang. Aku mau mengajakmu pergi ke pantai.”ajak Kim Joon.
”Hah? Benarkah?”
Kim Joon mengangguk.
”Aku duluan ya, Hyun Joong!” Min Jung langsung masuk kedalam mobil Kim Joon.
”Duluan ya, Hyun Joong!?”teriak Kim Joon sambil menyetir mobilnya. Hyun Joong hanya tertawa melihatnya. Tidak lama, dia kembali murung. Teringat So Eun didalam mobil Kim Bum.
”Apa yang sedang dia lakukan?”herannya.

So Eun duduk terdiam melihat Kim Bum membuka kap mobilnya. Dan tiba-tiba asap itu keluar dari kap itu. Mobilnya mogok ditengah jalan. Terlihat raut wajahnya yang kecewa. Tidak lama, dia menelepon seseorang.
So Eun pun keluar dari mobil itu.
”Ada apa, Kim Bum?”tanya So Eun setelah Kim Bum selesai menelepon.
”Maaf ya, So Eun. Padahal hari ini kita harus jalan-jalan. Tapi mobilku mogok.”sesal Kim Bum sambil kembali memperhatikan mesin mobilnya. So Eun sedikit kecewa. Dia melihat sekeliling. Dan dia melihat sebuah kafe teh.
”Kim Bum. Aku mau kesana dulu ya!”ujar So Eun sambil meninggalkan Kim Bum yang bingung melihatnya.

Mobilnya pun diderek oleh petugas untuk dibawa ke bengkel. Kini dia sedang menunggu So Eun kembali. Berkali-kali dia melirik jam tangannya.
”So Eun mana sih? Kenapa dia lama sekali?”keluh Kim Bum. Tiba-tiba So Eun datang dengan membawa motor vespa.

”So Eun? Darimana kau mendapatkan motor itu?”Tanya Kim Bum setelah melihat So Eun berhenti didepannya.
“Aku pinjam kepada pemilik kafe teh yang baik hati itu. Ayo, Kim Bum naik kebelakangku. Nih helmnya!” So Eun melempar helm yang dibawanya ke Kim Bum.
“Hah?”
“Ayo, Kim Bum! Hari ini kita harus jadi jalan-jalannya. Kau tidak boleh menolak!”ucap So Eun seakan ingin membalas Kim Bum yang memaksanya masuk ke dalam mobil tadi. Kim Bum hanya tertawa. Dia pun duduk dibelakang So Eun. So Eun menghidupkan motornya lalu mereka pun pergi.
So Eun begitu senang membawa motornya.
“So Eun! Aku tidak mengira kalau kau bisa membawa motor.”teriak Kim Bum. So Eun hanya tersenyum.

Lalu tangan Kim Bum memegang pundak So Eun agar dirinya tidak terjatuh. So Eun terkejut.

Dan hatinya kini kembali berdebar-debar.

So Eun pun berhenti di depan tangga. Kim Bum pun turun dengan heran sambil melepaskan helmnya.
”So Eun. Kenapa kita kesini?”tanya Kim Bum.
So Eun tidak menjawabnya. Malah dia langsung menarik tangan Kim Bum untuk naik tangga.

Sesekali So Eun menjahilinya. Kim Bum pun mengejarnya. Naik turun tangga tidak membuat mereka cepat lelah malah mereka menikmatinya.


Setelah merasa lelah. Akhirnya mereka pun duduk ditangga. So Eun masih tetap jahil. Dia menutup wajahnya dengan ponselnya. Kim Bum hanya heran.

Lalu So Eun menunjukkan wajah buruknya.

Kim Bum tertawa melihat keusilan So Eun. So Eun pun ikut tertawa.
”Apa-apaan kau ini, So Eun?” Kim Bum masih tertawa.

So Eun tersenyum melihatnya.
“Akhirnya dia bisa tersenyum lagi.”batinnya.
Tiba-tiba Kim Bum berhenti tertawa dan dia melihat ada toko perhiasan. Lalu dia menarik So Eun.
”So Eun! Bagaimana kalau kita kesana?”
So Eun hanya menurutnya.

Kim Bum terus melihat bermacam-macam kalung perhiasan.
”So Eun, kesini!”panggilnya. So Eun pun menuju ke Kim Bum yang memegang sebuah kalung berbandul love.
”Bagaimana menurutmu? Ini pasti cocok buat Ji Yun kan?”tanya Kim Bum.
So Eun tertegun mendengarnya.
”Untuk apa aku kecewa? Ini wajarkan. Mereka sudah bertunangan.”batin So Eun berusaha memperingatkan dirinya. Dia pun kembali tersenyum.
”Iya. Aku yakin dia pasti menyukainya.”ujarnya.
”Benarkah? Kalau begitu aku mau yang ini.” Kim Bum menyerahkan kalung itu ke pelayan toko itu. Dan kalung itu pun segera dibungkus.
So Eun kembali melihat-lihat perhiasan yang ada di toko. Tiba-tiba dia melihat cincin yang menarik perhatiannya. Lalu dia memegang cincin emas itu.
”Ada yang bisa saya bantu, Nona?”tanya pelayan toko itu. So Eun tersenyum melihatnya.
”Cincinnya sangat indah. Ini berapa?”tanya So Eun sambil menunjukkan satu cincin emas. Pelayan toko itu tersenyum.
”Maaf. Itu tidak dijual satu cincin. Tetapi sepasang.”terangnya.
“Hah? Sepasang?”
”Iya. Cincin ini adalah couple ring. Cincin ini sangat cocok buat pasangan Anda. Bahkan kalau Anda mau menikah. Kalau memakai cincin ini saya yakin hubungan Anda bersama pasangan Anda akan langgeng.”jelas pelayan Toko itu. So Eun termenung melihatnya.
”Oh. Begitu. Memang couple ring ini sangat indah. Terima kasih.”ucapnya sambil menyerahkan kembali ke pelayan toko itu. Lalu So Eun keluar dari Toko itu.
Tanpa So Eun sadari, Kim Bum memperhatikannya. Sambil menunggu kalung itu dibungkus, Kim Bum mendekati pelayan toko yang satunya.
”Maaf. Gadis yang tadi menanyakan apa ya?”tanya Kim Bum.
”Oh. Dia menanyakan cincin couple ring ini Tuan.” Pelayan Toko itu memperlihatkan sepasang cincin yang dipilih So Eun tadi. Kim Bum pun mengamatinya.
“Cincin ini memang indah. Aku beli yang ini juga ya.”
”Baik, Tuan.”
Pelayan Toko itu membawa couple ring itu ke kasir.

Hari sudah malam. So Eun dan Kim Bum kini berada disebuah restoran yang terletak dibukit. So Eun pun keluar diikuti Kim Bum. So Eun takjub melihat pemandangan kota malam dari atas.

”Wah… Indah sekali kota ini.”puji So Eun. Kim Bum tersenyum melihatnya. Lalu dia mengeluarkan sebuah cincin dari jasnya.
”So Eun.”panggilnya.

So Eun menoleh dan terkejut melihat Kim Bum memegang tangannya dan Kim Bum memakaikan cincin couple ring di jemari So Eun yang lembut. So Eun terkejut melihat cincin yang dipasanginya.

”Ini? Bukankah ini cincin couple ring?”Tanya So Eun.
“Iya. Tadi aku melihatmu memegang cincin itu di Toko tadi.”
“Tapi cincin ini kan sepasang.”
”Tenang saja cincin yang satunya aku pakai juga kok.” Kim Bum menunjukkan cincinnya di jari telunjuk bersampingan dengan cincin tunangan. So Eun tertegun melihatnya.
”Tapi cincin ini kan untuk pernikahan, Kim Bum.”So Eun mulai khawatir. Lagi-lagi Kim Bum tertawa kecil.
”Kau tidak usah panik begitu saja, So Eun. Aku tahu ini adalah cincin pernikahan. Tapi aku ingin memberimu sesuatu karena kau sudah mau menemaniku dan menghiburku dimalam minggu yang sepi ini.”
”Tapi…” Kim Bum menahan bibir So Eun dengan jari telunjuknya.
”Kalau kau masih cemas. Anggap saja cincin ini adalah tanda persahabatan kita.”ujar Kim Bum.
So Eun hanya terdiam sambil memandangi cincinnya.
Kim Bum tersenyum melihatnya. So Eun pun membalas senyumannya.

Kim Bum sudah pulang kerumahnya dengan naik taksi. Sementara So Eun mengembalikan motor vespa itu ke kafe teh tadi. Dia berkali-kali mengucapkan terima kasih. Lalu dia pun berjalan pulang ke tempat Min Jung. So Eun terus memandangi cincin yang dipakainya. Tiba-tiba dia melihat Ji Yun keluar dari mobil mewah didepan butik. So Eun mengernyitkan dahinya. Dari mobil itu keluarlah seorang laki-laki yang merasa dikenalnya.

”Itu… bukankah Jang Geun Suk? Tapi katanya mereka sudah putus?”herannya yang rupanya Geun Suk adalah kekasih Ji Yun yang dulu ketika SMA.
So Eun terbelalak melihat mereka berciuman. So Eun makin tidak mengerti.
Geun Suk langsung pergi dari tempat. Ji Yun memandang mobil itu dengan tersenyum sampai mobil itu mulai hilang dari pandangannya.
Ji Yun pun berbalik dan terkejut melihat So Eun.
”Ji Yun.”panggil So Eun. Ji Yun pun jadi salah tingkah. So Eun pun langsung mendekati Ji Yun.
”Ji Yun. Apa maksudnya ini? Bukankah kau sudah putus dengannya?”tanya So Eun. Ji Yun terdiam memalingkan mukanya.
”Katakan padaku, Ji Yun! Kenapa Ji Yun? Kenapa!”teriak So Eun yang mulai emosi.
”Iya! Aku kembali dengannya!”jawab Ji Yun dengan emosinya juga.
”Apa?”
”Awalnya aku memang berat putus dengannya. Kupikir aku bisa melupakannya kalau aku bersama Kim Bum. Rupanya sampai kini aku masih mencintainya.”
”Kau… kau mengkhianati Kim Bum. Kau teganya menduakan perasaan Kim Bum. Kalau kau memang masih mencintainya. Kenapa kau menerima pertunangan Kim Bum?”tanya So Eun.
”Karena aku juga mencintainya.”
”Apa? Kau…. Bagaimana kau bisa mencintai dua pria sekaligus?” So Eun mulai terkejut mendengar pengakuan Ji Yun.
”Terserah aku! Lagi pula, So Eun. Jangan harap setelah kau melihat kejadian ini. Kau akan bisa merebut Kim Bum lagi. Jika kau memberitahunya soal ini. Aku yakin dia pasti tidak akan mempercayaimu. Malah dia akan menganggapmu mengkhianatiku karena berusaha menghancurkan hubunganku dengannya. Kau tahu kenapa?”
So Eun terdiam.
”Karena dia sangat mencintaiku!?”serunya.
So Eun pun jadi marah dengannya.
”Kau bukan sahabatku.”lirih So Eun.
”Ya. Sekarang aku memang bukan sahabatmu. Tapi kau adalah musuhku!”ucapnya berlalu sambil menabrak bahu So Eun. Ji Yun pun pergi dari hadapannya. Sementara So Eun terlihat syok apa yang dilihatnya dan mendengar pengakuan Ji Yun.

TO BE CONTINUED……………………………….

Ternyata Ji Yun telah menduakan perasaan Kim Bum!
Akankah So Eun berani memberitahukannya walaupun akan terjadi kebencian Kim Bum terhadapnya?

Tunggu di part.5!?

NB: Jangan Lupa Komennya ya!

8 Tanggapan to “The Love For Happy Together Part.4”

  1. Afrida 25 September 2010 pada 9:00 PM #

    Wah…ff’a kren…
    Ttp smangat ya bkin’a…

  2. dini ramadhani 26 September 2010 pada 2:20 AM #

    bete bete bete soeun mareana drimu hiks hiks
    aq mo baca lanjutannya deh

  3. diann 26 September 2010 pada 9:30 AM #

    keren! Lnjutkn!

  4. rossita 27 Desember 2012 pada 7:03 PM #

    hisss .. jiyun pengen ditimpuk tabung gas lpj nih ..
    ngeselin banget ni orang ..

  5. Aisyahyesung 19 November 2013 pada 5:34 PM #

    kasian bum oppa

  6. Kim Jihyun 8 Januari 2014 pada 8:35 AM #

    jiyun ky apaan dah -_-

  7. Mia 30 Juli 2014 pada 3:15 PM #

    Masalah udah muncul nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: