CONFESSION [OS]

21 Sep

Mungkin masa lalu pernah memberi kita kebahagiaan tapi bukankah masa depan pun menawarkan kita suka cita???

Aku bersama iring – iringan band teman – temanku berhenti disebuah rumah sederhana. Aku mulai bersiap – siap mengambil aba – aba pada key, hong ki, seung ho, yun ho dan geun suk untuk memulai rencana yang sudah beberapa bulan ini kupersiapkan. Menyatakan cinta untuk ke 10 kalinya pada wanita yang sangat benar – benar aku cintai yaitu Kim So Eun.

Kali ini aku berencana untuk menyatakan cinta padanya lewat menyanyikan lagu ciptaanku sendiri didepan rumahnya. Berharap ia luluh dan menerimaku. Aku Kim sang bum, laki – laki tampan, paling pintar no 2 setelah kim so eun, baik hati, rajin menabung, suka bersedekah, tidak pelit, romantis, perhatian, pokoknya segalanya, satu lagi aku merupakan anak tunggal dari pemilik perusahaan raksasa GenCorp. Bisa kau bayangkan betapa kaya rayanya aku?. Banyak wanita – wanita yang jatuh cinta padaku tapi aku heran mengapa so eun tidak. Selama 10 tahun ini sejak aku mengenalnya.

Flashback .

“annyeong, namaku kim sang bum. Panggil saja aku kimbum. Aku murid pindahan dari Jepang. Mohon bantuannya.”sapaku pada teman – teman baruku di SD baruku. Semua gadis – gadis dikelasku tampak kagum melihatku, tapi hanya satu yang tidak mempedulikanku, ia nampak asyik dengan pensil dan bukunya, mencoret – coret sesuatu entah apa.

“kau boleh duduk disebelah so eun. Ketiga dari bangku paling belakang.”ujar lee yo woon sosengnim mengarahkanku. Aku mengangguk.

Aku berjalan santai menuju tempat duduk yang telah ditunjukkan guruku, sebelah seorang gadis kecil yang mengacuhkanku tadi. Ia tak menatapku. “annyeong .. kenalkan aku kim sang bum.”ujarku berusaha ramah. Ia hanya melirikku sebentar. Menutup bukunya dan menunjukkanku sebuah nama yang tertera di buku itu. KIM SO EUN. Begitu tulisannya. Aku mengerti.

Aku menjadi siswa yang popular disekolahku banyak yang ingin menjadi temanku, tapi gadis itu begitu acuh terhadapku. Entah aku benar – benar tidak tahu. Berulang kali aku menanyakan padanya tapi ia tidak menjawabnya. Tapi ketidak peduliannya membuatku jatuh cinta padanya.

End of flashback

1….2…3…. .kujentikkan jariku dan mulai memainkan gitarku serta mempersiapkan suaraku. Diikuti oleh hong ki yang memegang drum, geun suk pada keyboard, key pada bassist dan seung ho pada melodi.

Kim so eun …

Disuatu pagi ketika hari beriring hujan

Aku mengirimkan puisi lewat sayap – sayap merpati

Kau acuh.

Kim so eun …

Disuatu malam, ketika dingin menusuk menggigil

Aku pernah mengirimkan puisi lewat rembulan .

Kau berpaling.

Kim so eun …

Tiba – tiba aku jatuh cinta lagi

Kuuraikan cinta lewat kelu penaku

Bayangmu berkelebat melarung kabut dialam fikirku

Kuterpesona terbuai aura kehidupanmu

Penaku terhenti mengurai cintaku

Cinta …

Tak dapat terbahasakan lagi olehku

Kim so eun …

Aku jatuh cinta berulang – ulang

Lagi dan lagi padamu ….

Byurrrrrrrrrrrrr …………… . seember air jatuh tepat menimpaku. Aku diguyur oleh tetangganya . “berisik … apa kau tidak tau adat. Ini sudah malam. “teriak seorang ahjumma yang mengenakkan pakaian daster dan beberapa roll rambut dikepalanya.

“mianhamnida … aku hanya sedang mengungkapkan perasaanku. Mohon beri aku waktu.”teriakku kembali pada ahjumma tersebut. Ia mendelik. Kulihat so eun dari balik jendela sedang mengawasiku, ia melihatku menatapnya dan menutup kembali gordennya. Aku kecewa.

“so eun aku mencintaimu. aku tunggu jawabanmu besok disekolah.”teriakku pada so eun. Aku tahu dia mendengarnya, aku pun bersama teman – temanku kembali pulang.

***

Esoknya ..

“aku tidak berminat.”jawab soeun angkuh namun tetap pesonanya tak tertutup oleh keakuannya. Hatiku telah lebam. Hatiku porak poranda. Aku ditolak lagi.

“hatchim ……” aku berjalan gontai sambil bersin meratapi nasib kesekian kalinya ditolak oleh cinta gilaku. Seperti biasa sahabat – sahabatku menghiburku dan menyuruhku untuk melupakan so eun.

Aku tak bergeming. Aku akan tetap perjuangkan cintaku. Badai, banjir, tsunami, tornado apapun itu tak akan menyurutkan niatku untuk meraihnya. Meraih mimpiku. Kim so eun.

Tahukah kalian betapa hebatnya aku, betapa gigihnya aku mengejar so eun. Mengemis cintanya. Akan kupaparkan beberapa usaha – usahaku saat menyatakan cintaku pada so eun.

Usaha pertama saat aku kelas 6 SD. Aku membelikannya banyak sekali eskrim. Aku menghampirinya yang tengah melamun sendiri di taman sekolah. “sso –ah . aku menyukaimu, kau mau kan jadi teman dekatku? Kalau mau akan kuberikan seluruh eskrim ini untukmu.”ujarku walau agak sedikit gugup karena ini pertama kalinya bagiku. Soeun mendongakkan kepalanya dan berkata “aku benci eskrim.” Ia pun meninggalkanku.

Usaha kedua saat aku mulai menginjak bangku SMP. Aku sungguh nekad saat itu, kami sedang mengikuti kegiatan MOS, saat itu aku kena hukuman oleh seniorku karena aku terlambat. Mereka menyuruhku berdiri dilapang sekolah selama 2 jam. Dan tiba – tiba ditengah hukumanku, aku melihat so eun lewat dihadapanku, aku sungguh refleks berteriak “Soeun aku mencintaimu.”teriakku. sontak semua orang yang ada disekitarku melirikku. Alhasil karena kenekatanku, aku dan so eun dihukum berdua untuk membersihkan halaman belakang bersama. Walau lelah tapi aku bahagia karena aku bisa berduaan dengan soeun.

Usaha ketiga, saat itu kami dari sekolah tengah berlibur kepulau jeju. Kami semua tengah bermain dipantai jungmun. Hal ini sudah kurencanakan sebelum aku berangkat ke Jeju. Aku menyewa beberapa penerbang terbaik untuk melakukan sesuatu. aku menyuruh mereka menuliskan “SARANGHAE KIM SO EUN” di udara. Tentu saja, semua orang sudah mengira bahwa hal itu aku yang melakukannya karena tidak ada lagi yang begitu popular mengejar – ngejar so eun segigih itu. Hmm … jawabannya memang tidak seperti yang aku harapkan. Tapi aku sempat melihat kebahagiaan dimatanya ketika melihat tulisan itu.

Masih ingin dengar ceritaku? Usaha selanjutnya. Pada saat liburan musim panas, aku memberikan kejutan padanya dengan memberikan dia spanduk yang sangat besar yang berisi tanda tangan dari semua orang yang kutemui untuk meminta dukungan mereka. So eun sangat terkejut melihat hal itu, tapi kemudian dia marah – marah “apa kau mau berjualan kain didepan rumahku ? Lagipula aku kan sudah menolakmu dan sekarang juga aku menolakmu.”ujar so eun. Ia pun berlari masuk kedalam rumahnya dan membanting pintu. Aku pulang dengan lesu, tapi kutinggalkan spanduk itu didepan gerbang rumahnya. Berharap ia menyimpannya.

Sebenarnya masih banyak ceritaku saat aku menyatakan cinta padanya. Tapi cukuplah sekian untuk membuktikan pada kalian bahwa aku memang benar – benar menyukai so eun. Penolakan – penolakan so eun memang tak akan pernah menyurutkan keinginanku untuk memilikinya. Ini adalah tantangan bagiku, aku tidak akan berhenti sampai aku berada dititik cobaan dimana daya tahanku telah mencapai batas terendah. Penolakannya semakin membuatku bangkit, aku terus mengevaluasi diriku. Aku terus berusaha memperbaiki diriku mencari – cari kekuranganku, hingga kini aku menjadi pria yang seperti ini pun adalah karenanya. Karena aku ingin pantas menjadi pasangannya.

***

Aku terkesima. Kupandangi foto so eun paling besar dikamarku. Kutempel ditembok yang berhadapan dengan ranjangku, sehingga setiap aku bangun tidur dan akan tertidur yang kulihat adalah dia. Matanya indah dan sayu, rambutnya terurai hitam legam, kulitnya putih bersih, bibirnya kecil dan ranum. Sempurna. Satu kata yang pantas kusematkan untuknya. Sungguh entah kebaikan apa yang ia lakukan sehingga Tuhan menghadiahkan kecantikan yang begitu agung padanya. Kurasa bidadari pun iri padanya.

“sekali lagi. Izinkan esok kumelakukannya lagi.”gumamku. aku pun tertidur, terlelap dalam buaian mimpi si peri biruku. Kim so eun.

***

Hari ini adalah pesta perpisahan. Kami kini telah lulus SMA. Aku beserta seluruh teman – temanku berdandan sebaik mungkin. Karena inilah puncak pertemuan bagi kami. Sebentar lagi kami akan menjalani hari – hari baru dan mengukir masa depan yang berbeda. Setelah lulus SMA ini, ayah mengirimku ke Amerika untuk belajar bisnis supaya aku dapat meneruskan perusahaan. Sebenarnya aku tak ingin melakukannya karena aku tak ingin berpisah sejauh itu dengan so eun. Tapi inilah takdirku, aku adalah pewaris tunggal dan kalau bukan aku maka siapa lagi? Jutaan orang bergantung pada perusahaanku.

So eun terlihat asyik bercengkrama dengan teman – temannya Go ara, shin hye, ji yeon, ji hyun dan Jessica. Ia sungguh terlihat cantik, aku bahkan tak pernah merasa bosan memandangnya. Aku ingin menghampirinya, tapi aku takut jantungku akan meloncat karena aku berhadapan dengannya. Aku sungguh ingin mengajaknya berdansa, hanya malam ini kumohon.

Kuberanikan diriku menghampirinya. Kuulurkan tanganku dan tersenyum semanis mungkin. Memberi isyarat bahwa aku mengajaknya berdansa. So eun termenung, teman – temannya hanya memperhatikan, ji yeon pun menyenggol lengan so eun, ia mendukungku. “untuk yang pertama dan terakhir.”ujar so eun sambil meraih tanganku. Sungguh rasanya aku tidak menapak ke tanah, aku sungguh bahagia. Dia menerima ajakanku berdansa.

Kami berdansa dengan diiringi instrument lembut nan romantis. Rasanya aku tak percaya ini, teman – teman disekitarku memperhatikan kami berdua, sehingga yang kini tengah berdansa hanyalah kami. Aku tak melepaskan pandanganku dari matanya, kuterus menatapnya, berusaha mengalirkan seluruh rasaku lewat matanya. Aku berusaha mendekatkan wajahku dekat dan semakin dekat. Cup . kukecup pipi kanan so eun.

Plakkk …. Tamparan yang lumayan keras mendarat dipipi kananku. Inikah balasannya?. “mengapa kau berani mencium pipiku?”ujar so eun. “aku sungguh mencintaimu so eun. Kumohon datanglah padaku. Sungguh kau adalah wanita yang paling berharga setelah ibuku.”ujarku sambil memegangi kuat tangan so eun. so eun menatapku, bukan pandangan benci kulihat gamang diwajahnya.

“disini dihadapan semua orang. Kukatakan bahwa kau satu – satunya wanita yang aku cintai dalam hidupku. Maka lumat – lumat aku !! ambil segalanya dariku … rampas !!! sita !!! jarah semua yang kumiliki !!! ambil apapun yang kau inginkan …. Setelah itu cintailah aku !!!” kupegangi dadaku rasanya sakit, aku mengguncang hatiku. Tumpah ruah seluruhnya, semua yang selama ini terpendam, putus asa dan kemarahanku. Aku berlutut dihadapan so eun tanpa melepaskan peganganku padanya.

So eun berusaha melepaskan peganganku. Ia pun lari sambil menangis.

Aku kaget melihat so eun berlari sambil menangis. Aku pun segera mengikutinya. So eun naik taksi. Aku tak punya pilihan lain, disekitarku kini hanya ada seonggok sepeda milik satpam gedung sekolah. Kulemparkan dompetku pada satpam itu dan berteriak “itu jaminan untuk sepeda ini.”.

Kukayuh sepeda secepat mungkin berusaha mengejar taksi yang soeun tumpangi.

***

So eun menangis disebuah pusara. Aku mendengar tangisannya yang begitu menyayat, seakan ia sangat terluka. Kucoba mengatur kembali nafasku yang rasanya seperti tercekik. Aku mendekatinya perlahan bahkan hampir tak terdengar suara sepatuku. “so eun …”ujarku dengan frekuensi terendah dan selirih mungkin. So eun menatapku tajam. “pergi …”ujarnya.

Aku tetap tak beranjak. “ 3 hari lagi aku harus berangkat ke amerika untuk melanjutkan studiku. Aku hanya ingin memastikan apakah kau akan menungguku. So eun tak bisakah kau melihat betapa banyaknya cinta untukmu dariku?”ujarku.

So eun beranjak, ia kini berdiri berhadap- hadapan denganku. “kau tahu, aku sungguh telah benar – benar letih dengan ini semua. Apalagi yang harus kulakukan agar kau mundur?” ujar so eun dengan suara yang sedikit serak.

“apa aku tidak cukup baik bagimu?”tanyaku.

“ya. Kau tau apa alasanku tidak pernah mau menerimamu?”Tanya so eun.

Aku menggeleng.

“karena aku membencimu. Bukankah sebelum pergi ke Jepang kau pernah mengalami kecelakaan di korea?”Tanya so eun kembali.

Sesungguhnya aku merasa terpukul mendengar so eun membenciku. Namun aku mengangguk untuk mewakiliku menjawab pertanyaan so eun selanjutnya.

“seorang pria yang mengendarai motor, yang menjadi lawan tabrakan mobilmu adalah ayahku. Saat itu ayahku akan pulang kerumah. Ia benar – benar tak sabar untuk segera sampai dirumah. Tapi kau dan sopirmu yang tengah mengantuk menabrak ayahku hingga tewas. Apa kau tahu betapa remuknya hatiku ketika aku tahu apa barang yang dibawa oleh ayahku? Boneka Barbie dan kertas ujian. Nilai A pertamaku. Ayah ingin memberiku hadiah karena aku berhasil mendapat nilai A.”Papar so eun diiringin linangan air matanya. Aku hanya tertegun.

“keluargamu memang bertanggung jawab atas kecelakaan itu. Tapi, bantuan kalian tak akan pernah membuat ayahku hidup kembali!!!!”teriak so eun. So eun menarik kerahku, kurasakan ia begitu marah terhadapku, “kalau kau mau pergi, maka pergilah itu lebih baik untukku.”. so eun melepaskan kerahku ia pun berjalan meninggalkanku. Sedang aku hanya mematung, aku sungguh terpukul mendengarnya. Aku begitu mencintainya dan dia begitu membenciku. Dilematis !!!

Hari ini angin malam terasa begitu menusuk. Tapi masih tak dapat mengalahkan dinginnya hatiku saat ini. Aku terduduk lemah diantara pepohonan sekitar taman kota seoul. Aku merenung, mencerna semua yang terjadi malam ini. Kuputar kembali kenangan saat kecelakaan itu, kepergianku ke Jepang untuk mengobati gegar otakku, kembali ke korea, menemukan cinta suciku dan cerita hari ini.

Aku menyelami perasaan so eun, mencoba memahami hatinya. So eun begitu menyayangi ayahnya, dan aku secara tidak langsung adalah orang yang telah merenggut ayahnya dari sisinya. Sungguh aku merasa berdosa. Pantas saja so eun tak pernah sekalipun menerimaku. Ia selalu menjawab pertanyaanku dengan nada sengak.

***

Aku masih mengenakan stelan jas pestaku saat aku tertegun didepan gerbang rumah so eun. Kulihat cahaya temaram dikamarnya, kuyakin dia masih terbangun. Aku berteriak “so eun maafkan aku !!!”. tak ada jawaban.

“aku akan menunggumu disini sampai kau mau memaafkanku. Sungguh aku tidak mengetahui itu. Kumohon maafkan atas kebodohanku, ketidak tahuanku dan …… dan atas besarnya cintaku.”ujarku dengan tangisan yang tertahan.

Aku berlutut didepan gerbangnya. Tak ingin bergeming sekalipun petir – petir itu menggelegar, liukan angin malam yang membuat gigiku gemertakan, dan dinginnya hati so eun.

***

So eun membuka sedikit gordennya, membuat celah untuk melihat sosok lelaki yang tengah berlutut diluar meminta ampunannya. “bodoh …”gumamnya.

Perlahan ia terduduk, ia telungkupkan tangannya dikakinya dan menunduk. Menangis.

“kau tidak tau betapa aku bahagia ketika kau mengaku kau mencintaiku dan begitu menginginkanku, dan betapa aku ingin menghapuskan kebencian ini.” So eun terisak. Ironis.

***

Semalaman kimbum tak beranjak. Ia terus saja berlutut, bahkan matanya pun tak tertidur. Ibu soeun melihat pemandangan itu, ia tersentuh. Ibu soeun tak pernah membenci keluarga kimbum, namun berbeda dengan so eun yang saat itu begitu menginginkan sosok ayah untuk menemani masa tumbuhnya.

Ibu so eun menghampiri so eun yang sedang terbaring diranjangnya. “aku tahu kau tidak tidur.”ujar ibu so eun. Ibu so eun membelai anaknya tersebut.

“tak ada yang tahu apa yang akan terjadi, bahkan ketika kedipan mata serta hembusan nafas yang keluar dari tubuh kita hilang dihisap oleh alam. Kita tak pernah tau apakah masih memiliki kesempatan untuk sekedar mengedipkan mata, bahkan tak bisa menjamin pada diri sendiri untuk bisa menarik nafas berikutnya. Karena itu, lakukankah segala sesuatu atas kata hatimu. Jangan biarkan bisikan – bisikan liar itu meruntuhkanmu.”ujar ibu so eun lembut.

So eun berusaha bangun dari tidurnya. Ia peluk erat tubuh renta ibunya. “apa yang harus kulakukan bu?”gumam so eun dengan suara yang sengau. Mungkin efek dari semalaman ia menangis sampai tertidur.

“hampirilah ia. Maafkan dia. Bukankah putriku ini berjiwa besar?” ujar ibu so eun. “haruskah bu?”timpal so eun. Ibu so eun mengangguk. “baiklah.”so eun beranjak dari kasurnya. Ia berjalan menuju gerbang menghadapi kimbum yang masih terduduk disana.

“sso-ah …”panggil kimbum lirih. “bangunlah, kumohon.”ujar so eun. “aku tak mau bangun sebelum kau memaafkanku.”ujar kimbum. “aku akan memaafkanmu tapi …. “kalimat so eun menggantung. “tapi apa?”Tanya kimbum.

“tapi lupakanlah aku. Tolong hargai keinginanku, maka akupun akan memaafkanmu. “ujar so eun. Ia pun berbalik, kuraih tangannya. Mencoba menahannya pergi. “apakah memang tak pernah ada kesempatan untukku?”Tanyaku mencoba mencari secercah harapan walau rasanya sulit. “jangan sia – siakan hidupmu. Pergilah dan jadilah apa yang kau inginkan. Tak perlu menungguku, sesuatu yang tidak pasti. “ujar so eun. Sungguh ia terlihat ragu.

Aku masih menahan tangannya. Kuhirup nafas dan mencoba untuk berucap sesuatu dengan sisa tenagaku. “untuk terakhir kalinya sebelum aku pergi ……. Izinkan aku untuk mengatakan bahwa …. Hanya kau yang akan kucintai selamanya. Aku mencintaimu .”ujarku. kulepaskan perlahan peganganku pada jari – jarinya. Aku berbalik, mencoba melangkah pulang.

So eun menatapku. Seberkas cahaya dimatanya. Ia menahan tangis.

***

Walau tubuhku masih terasa lemas tapi aku harus melaksanakan kewajibanku. Janjiku kepada ayah untuk pergi ke amerika untuk melanjutkan studyku. Kini aku tengah berada di bandara. Ayah, ibu, key, seung ho, hong ki, yun ho, dan geun suk ditambah beberapa temanku yang lain mengantarkanku pergi. Kupandangi tiket pesawatku. Ingin rasanya kusobek dan berlari menuju so eun tapi itu tak mungkin. Aku tak ingin menjadi anak durhaka.

Aku menatap sekitarku, berharap sosok yang kuinginkan datang. Menghampiriku, mengatakan jangan pergi, atau mungkin akan menungguku kembali. Aku mencari sosok so eun. Nihil. Aku tak menemukannya, dia tak datang.

“nak, cepatlah naik kepesawatmu, sebentar lagi akan berangkat.”ujar ibuku. “ya bu.”ujarku. “bro … kami akan menjaganya. Konsentrasilah disana dan jangan lupa kabari kami.”ujar seung ho. Aku tersenyum melihat sahabat – sahabatku. Namun rasanya tak rela aku meninggalkan mereka. Ayahku yang pendiam dan sabar dalam menempaku menjadi calon pewaris perusahaan. Ibu yang lembut dan cerewet dalam membesarkanku. Sahabat – sahabatku yang mengiringi perjalanan hidupku sampai saat ini. Terima kasih, aku pasti akan merindukan kalian, rasanya dadaku sesak. Kulambaikan tanganku sebagai salam perpisahan. Aku terisak – isak.

***

Hari yang cerah namun tak secerah hati milik seorang gadis yang sedang terduduk dibawah kaca jendela kamarnya. Ia terlihat menangis. Dia adalah kim so eun.

“kau telah benar – benar pergi.”gumam so eun ketika ia melihat kelangit. Sebuah pesawat.

So eun berjalan lesu keranjangnya. Ditutupnya seluruh tubuhnya dengan selimut. “aku harus tertidur. Kuyakin setelah kubangun maka aku akan segera melihatnya lagi.”gumam so eun. Air matanya menetes perlahan.

***

5 tahun kemudian …

‘hiks …. Huhuhu ….”seorang gadis kecil berumur sekitar 10 tahun sedang menangis disebuah taman. Aku yang baru saja kembali dari amerika, menghentikan laju mobilku. Aku menghampiri gadis kecil itu.

“annyeong … gadis kecil mengapa menangis?”tanyaku seramah mungkin. Sebenarnya aku takut disangka penculik.

“aku ingin balon itu. Semuanya.”tunjuk gadis kecil itu. Aku menoleh kearah yang ditunjuknya. Aku pun tersenyum. “tunggu aku disini”ujarku.

Aku pun menghampiri si tukang balon yang ditunjuk gadis kecil itu. Aku membeli seluruh balon helium miliknya. Aku pun kembali menemui gadis kecil itu.

Aku mendapati bangku yang tadi diduduki gadis kecil itu kosong. Aku melihat kesekitar tak kutemukan siapapun. Apa aku tadi hanya berilusi? Aku rasa tidak.

“oppa ….”teriak seseorang. Suaranya sepertinya aku pernah mendengarnya. Aku berbalik. Gadis kecil tadi. Tapi tunggu sebentar …. Ia bersama seseorang. Seseorang itu menuntunnya, seseorang itu juga tertegun melihatku. Seseorang itu Kim So Eun.

Entah karena aku kaget atau terlalu terpukau melihat kecantikannya yang semakin membuatnya terlihat dewasa, balon yang sedari tadi kupegang lepas. Mereka berkeliaran beterbangan. Rasanya mereka berteriak “aku bebas …”. Aku masih mematung. Suara teriakan riang gadis kecil tadi menyadarkanku. Ini realita.

***

Aku dan so eun memilih untuk berbincang ditaman sambil memperhatikan anak gadis yang bernama kim yoo bin. Gadis manis yang tadi minta dibelikan balon. Ia adalah keponakan so eun. Tadinya kukira anaknya, tapi untung aku adalah pria yang cerdas. Mana mungkin aku tak bertemu so eun selama 5 tahun dan kini ia telah memiliki anak berumur sekitar 10 tahun. Kecuali ia menikah dengan seorang duda beranak.

“mm … bagaimana kabarmu?”Tanya so eun. Lama tak bertemu membuatnya lebih ramah terhadapku. Terlebih pertemuan kami yang terakhir.

“mm … aku baik – baik saja.”jawabku.

“kapan kembali?”Tanya so eun. “baru saja. Sebenarnya aku sedang dalam perjalanan kembali kerumah. Tapi kurasa Tuhan mendengar doaku. “ujarku mencoba mematut – matutkan kalimatku ditengah letupan – letupan kebahagiaanku. “doa apa?”Tanya so eun. “aku berharap orang yang pertama kali kutemui adalah kau.”ujarku. rasanya kalimat – kalimat rayuan itu kembali terucap setelah 5 tahun aku break dari dunia “mengejar kim so eun”.

“kau masih seperti dulu.”gumam so eun. Aku mengangguk. “aku masih seperti dulu. Masih mencintaimu.”kata – kata itu begitu tulus mengalir. Tak tersangkut diujung lidahku. So eun melirikku “mengapa kau mencintaiku?”Tanya so eun kembali.

Kutarik nafasku. Aku berfikir sejenak, menjawab pertanyaan yang sebenarnya selama ini pun aku pertanyakan. “hmmm …. Apa kamu tahu mengapa salju sering dilambangkan dengan kelembutan cinta? Kenapa bunga mawar dikatakan keindahan cinta? Dan kenapa intan disimbolkan keabadian cinta?” ujarku. So eun menggeleng.

“karena salju adalah butiran air beku yang membeku dan karena dinginnya membuat turunnya lembut tidak seperti hujan … begitu juga cinta. Sudah seharusnya lembut tidak kasar, karena disitu ada kasih sayang bukan amarah. Bunga mawar dengan warnanya bisa membiaskan sinar surya sehingga warna warni dipantulkan dari lembaran – lembaran bunga dikelopaknya … begitu juga cinta, bisa memberikan warna kasih sayang. Intan adanya didasar bumi, keras dan goresan garis yang dipunyainya mampu memancarkan cahaya yang berkilau … begitu juga cinta, walau adanya dilubuk hati yang paling dalam, bisa menerangi jiwa dengan kasih sayangnya. Tapi ada satu perhiasan dunia yang terindah diantara yang indah. Dia lebih lembut dari salju, lebih indah dari bunga mawar dan lebih abadi dari intan. Dia adalah kim so eun.” Aku sungguh tergetar dengan kata – kataku sendiri.

So eun menatapku, kulihat ada air mata disela – sela matanya. Kucoba seka air mata itu dengan tanganku. “maafkan aku …”ujar so eun. Aku bingung melihatnya seperti itu. “untuk apa?”tanyaku.

“karena keangkuhanku. Karena keegoisanku. Karena kemunafikkanku. Dan ….. karena besarnya cintaku padamu.”ujar so eun terbata – bata.

Aku terkesiap. Terlebih mendengar kalimat terakhir yang ia ucapkan “karena besarnya cintaku padamu …” padakukah???.

“tidak sepatutnya aku terus hidup dalam kekecewaan yang seharusnya sudah aku tinggal pergi. Ayah yang kuinginkan untuk melindungiku, untuk menemaniku dalam tumbuh kembangku, menjadi sandaranku telah pergi. Dan sudah seharusnya aku tidak berlarut – larut dalam kesedihan itu bahkan sampai membencimu.” So eun menarik nafasnya. “jarak dan waktu membuatku tersadar akan perasaanku. Aku selalu berharap setiap kututup mataku kemudian kubuka kembali yang kulihat adalah senyummu dan kau berkata ‘saranghae sso-ah’. Aku …. Aku mungkin aku mencintaimu.”ujar so eun.

Rasanya ada bom ditubuhku yang akan meledak mendengar kata – kata so eun. Ya Tuhan apakah aku harus menampar diriku sendiri untuk memastikan ini adalah nyata?

“aku tak berharap terlalu banyak. Aku tahu mungkin terlambat bagiku untuk memintaku bersamamu. Tapi aku tak ingin terus membohongi perasaanku. Maaf apabila pengakuanku membuatmu tak nyaman. Aku tak akan mengatakannya lagi.”papar so eun. Wajahnya terlihat sendu, mungkin karena sedari tadi aku hanya diam.

“katakanlah itu setiap hari. Aku akan bahagia mendengarkannya.”ujarku. rasanya aku malu, aku menggaruk – garuk kepalaku yang tak gatal. Begitu juga dengan so eun, kami salah tingkah.

Gadis kecil bernama yoo bin itu pun menghampiri kami .”oppa jika aku besar menikahlah denganku.”ujar gadis kecil itu. Aku kaget, baru kali ini aku dilamar oleh seorang gadis kecil. “mengapa kau ingin menikah dengannya? Apa karena ia tampan?’timpal so eun. Yoo bin pun mengangguk. Ah aku sungguh benar – benar merasa tampan.

Akhir cerita selalu happy ending. Aku akhirnya memilikinya, memmiliki Kim So Eun. Kegigihanku kini terbayarkan, aku tak pernah menyesal dengan semua yang kualami. Karenanyalah aku sampai pada titik ini. Titik terindah dihidupku. Kupeluk so eun erat. Dan kupastikan untuk selamanya.

THE END

Gimana ceritanya ??? ngebosenin gk???kepanjangan yah?? Maaf yah, ku keasyikan ngetiknya hahahha ….*gk lucu*

Created by : lulu siti auliyah ms

26 agustus 2010

Please add me at fb LULU AULIYAH & follow me at twitter @loerhapsody.

Gomawo … >________________<

16 Tanggapan to “CONFESSION [OS]”

  1. Merli Beomsoeul 22 September 2010 pada 1:03 AM #

    Aigoo pengorbanan kb disini so sweet banget jadi iri dh am unnie ..

    Oppa jika aku besar menikalah denganku ujar gadis kecil itu
    >jeeah neh bocah centil tau ja ma yang tampan wkakaka ..
    Berani sekali melmar oppa , oppa sja blum melmarku *ngarep*

    ahh aku sungguh benar-benar merasa tampan
    > jiah ci oppa bru nydar kalo drimu bgtu tampan , liat senyum mu saja buat mates n bummies melting haha .

    Aku tnggu OS selanjutnya^^

    • rLn sayang bumssoeulsangeun 22 September 2010 pada 12:34 PM #

      hahahahah betul merli… itu kecil2 udah ngomongin nikah… hadoohhhh wkwkwkwkwkkwk
      bener, liat senyumnya saja sudah bikin meleleh…..hohohooohoo

      makasih udah baca….

  2. Moza SoEulmates 5 Desember 2010 pada 7:22 PM #

    Rasanya ada bom ditubuhku yang akan meledak mendengar kata – kata so eun. Ya Tuhan apakah aku harus menampar diriku sendiri untuk memastikan ini adalah nyata?>> yah,, jgn donk oppa.. kasian oppa klo d tampar.. mending di elus2 ajja.. *wkwkwkwk
    oppa jika aku besar menikahlah denganku,, >>haduh masih kecil taw ajja sma yg gnteng.. memang ketampanan oppa Q tak bsa d tolak..
    Ah aku sungguh benar – benar merasa tampan>> jiah,, oppa nie gmna toh,, knapa bru nyadar sih.. hah,, senyum oppa saja membuat q leleh,,

    bwt kak lulu,, aQ tunggu next OS’y..

  3. rizkyapratiwi 10 Februari 2011 pada 2:07 AM #

    yeeeeeeeeeeehhh,, happy ending

  4. Niiz 15 Maret 2011 pada 2:07 AM #

    Huaaa awalnyaa gokil, bumppanya lebay beud, tngahnya nangis bombay, terharu ma kegigihan bumppa😥 hiks.

  5. nia 19 Juni 2011 pada 10:03 PM #

    lucu bgt wkt kb diguyur air,,

  6. charlotte 25 Juni 2011 pada 11:32 PM #

    Aduh, nangis, ketawa, semua lengkap deeh, author bikin FF keren bangeet😀

  7. SaRy aj0w 12 Juli 2011 pada 2:01 PM #

    ini niiiiiiiiii FF yang Mengharu Biru peK di Copas jg…hehheheehhe emang Totally DAEBAK nie FF…

  8. geill 20 Desember 2011 pada 10:00 PM #

    beneran seru, pas mo di endingnya benar2 mengharukan.
    kata2nya jg romantis dan di bumbui kisah cinta yg menarik untuk dim baca, i like ^_^

  9. Gee 23 Desember 2011 pada 12:21 PM #

    so romantic……..
    Aduh, tu sapa yah yg braNi guyur KimBum…gak lYt apa setampan itu..ckckck
    Suka SoEun yg juTek bnget…\

  10. ayu lestari 22 Maret 2012 pada 12:19 AM #

    aaa so sweet bgt bummie & eunnie pko’a best couple deh !!

  11. yuyun 22 Mei 2012 pada 2:24 AM #

    so sweet…..

  12. cucancie 24 September 2012 pada 1:58 PM #

    Akhirnya perjuangan dan penantian kim bum utk so eun ga sia2…hmmm senengnya….

  13. vika 28 Maret 2013 pada 10:26 AM #

    10 jmpl wat yg bkn,krn bewut..

  14. Ikfina 11 Juli 2013 pada 4:42 PM #

    Annyeong..
    Aku reader bru:)
    sungguh mengharukan,
    tp untung aja happy ending:D
    ceritanya bgus,
    ayo donk buat ff BumSso lagi,
    FIGHTING!!

  15. Lika hanizon 6 Maret 2015 pada 12:18 AM #

    Romantissss….Abisssx…..!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: