ROMANTIC EVE Part 4

13 Sep

Dari jiwa tuk jiwa yang mengerti akan bahasa perasan dan keperkasaan cinta, yang mampu manusia bertahan dalam pasang surut kehidupan lamanya sebuah penantian dan agungnya sebuah pengorbanan

Suara ambulance terdengar nyaring disekitar TKP, Kim bum dan Kim so eun segera dibawa ke rumah sakit dipusat kota Seoul, sedangkan lawan tabrakan mereka mati mengenaskan ditempat, mayat masuk kedalam tong sampah dengan keadaan yang mengenaskan, organ tubuh yang beberapa keluar dan berlumuran darah. Sudah dapat dipastikan korban tersebut telah meninggal. Didapatkan keterangan dari berbagai sumber seperti KTP dan barang – barang milik korban. Dan telah dapat teridentifikasi bahwa dia adalah guru dari Kim Bum dan kim so eun yaitu Park Jin Hee, ia mengendarai dalam keadaan mabuk dan dalam kecepatan yang tinggi.
(maaf mates aku masukin PJH Cuma buat cameo doank, coz aku kesel bgt ma dia, jadi aku bikin dia Cuma muncul bentar abis itu mati mengenaskan, buat yg blum puas dengan keadaan witch jin hee silakan tambahkan di comment >-<)
Di tempat lain seung ho dengan semangatnya menata mejanya yang telah ia persiapkan untuk candle light dinner bersama so eun diruang VIP. Tak henti – hentinya pula ia bercermin memastikan bahwa apa yang dipakainya layak dan dapat menarik perhatian so eun. Ia mulai merangkai kata – kata yang romantic untuk dia ucapkan pada so eun. Seung ho memang berniat untuk menembak so eun malam itu, segalanya telah ia persiapkan begitu sempurna sampai – sampai sebuah kalung berbentuk bintang pun tak lupa ia kemas secantik mungkin sebagai symbol kasihnya untuk so eun.
“kumohon cepat datang so eun.” Batin seung ho sambil menatap manis kalung yang ia niatkan untuk ia berikan pada so eun.

Kim bum dan so eun terbaring lemah tak berdaya diruang UGD, mereka ditempatkan diruangan yang berbeda, keduanya harus segera ditangani agar nyawa mereka bisa tertolong. So eun masih beruntung kepalanya hanya kena benturan ringan, kepalanya masih terlindungi oleh helm yang ia pakai, hanya saja kakinya terluka parah. Sedangkan kim bum benar – benar kritis. Sempat ia tak terdeteksi detakan jantungnya, namun dengan cekatan dokter Hyun joong mengambill tindakan sehingga kim bum masih bisa selamat walaupun memang sangat lemah. Ia kehilangan banyak darah saat itu, kecil kemungkinan bagi kim bum untuk hidup. Namun sepertinya semangat Kim bum untuk bertahan hidup masih besar.
Sementara itu seung ho masih setia menunggu so eun walau waktu telah menunjukan pukul 9 malam. Terbersit banyak fikiran negative dalam bayangnya, namun coba ia tepis dengan hal – hal yang masih membuat ia bertahan untuk menunggu. Namun rasanya ini sudah janggal, tak biasanya so eun seperti ini. Sebisa mungkin so eun pasti akan menepati janjinya, iya yakin itu. Bukan sekali ini saja so eun berjanji pada seung ho, dulu sewaktu SMP so eun pernah berjanji untuk bisa berjalan – jalan dengannya dan so eun menepatinya sekalipun saat itu ia sedang sakit. Tapi mengapa kini so eun seperti ini, bahkan tanpa kabar sedikitpun.

Seung ho mulai mengambil inisiatif untuk menelpon so eun, ia mengambil benda kecil berupa cell phone dari sakunya dan mulai mencari nama so eun dan menekan tombol dial. Namun tak ada jawaban, ia terus mencoba dan mencoba namun hasilnya tetap sama. Kemudian ia mulai mencari nomor lain yang sekiranya dapat membantunya untuk mencari tau dimana so eun.
“Shin hye, aku tau.” Batin seung ho sambil mencari nama shin hye dan kemudian menghubunginya.
“Hallo” terdengar sapaan dari shin hye dengan nada yang sepertinya sedang menangis
“Shin hye, ini aku seung ho, apakah so eun ada bersamamu?” ucap seung ho langsung pada intinya.
“huaaaa ……” tangis shin hye seketika menyeruak dan memekakkan telinga seung ho
“ kau kenapa?” Tanya seung ho
“ so eun ……. So eun ……………….hiks ……… “ ucap shin hye terbata – bata
“so eun kenapa?” Tanya seung ho yang mulai cemas dengan keadaan so eun
“so eun dan kim bum kecelakaan!!!!” seru shin hye
“apa???” seung ho tersentak mendengar kata – kata shin hye. Namun ia masih berusaha untuk bersikap tenang
“Lalu bagaimana keadaan so eun sekarang? Dia ada dimana?” Tanya seung ho kembali
“dia sudah melewati masa kritisnya dan sudah dibawa kekamar pasien. Dia dirawat dirumah sakit seoul.” Jelas shin hye
Seketika itu pula seung ho berlari sambil meraih jaketnya dan mendekati mobilnya. Ia mengendarai mobil dengan cepat karena ingin cepat melihat keadaan so eun. Setibanya ia dirumah sakit, ia langsung menuju tempat so eun dirawat.
So eun terbaring lemah didampingin shin hye dan ibunya, mereka masih menangis menunggu so eun sadar. Seung ho hanya bisa duduk lemas ia tak menyangka seluruh rencana indah yang telah ia susun harus hancur karena so eun harus mengalami kecelakaan.
Seung ho mendekati so eun ia menatap lekat wajah itu, berusaha meyakinkan dirinya bahwa so eun akan kembali padanya.
Esoknya ….
Keadaan kim bum masih kritis, ia masih berada di ruang UGD. Kim bum telah dinyatakan koma dan entah kapan ia bisa bangun kemungkinan sekitar 1 minggu. So eun kini telah sadar, ia telah ditempatkan dikamar pasien. Walaupun keadaannya masih lemah namun ia masih lebih baik daripada keadaan kim bum.
So eun ditemani shin hye sahabatnya dikamarnya.
“Shin hye bagaimana keadaan kim bum sekarang?” Tanya so eun dengan nada suara yang lemah
“kim bum masih belum sadarkan diri, dia masih koma dan sekarang dia ada diruang UGD” ucap shin hye yang sebenarnya ia tak mau mengatakannya.
“Apa???, shin hye antarkan aku kekamar kim bum sekarang juga.” Seru so eun
“Tunggu dulu so eun, kau masih harus banyak istirahat, kau baru saja sadar semalam. Kau jangan banyak bergerak dulu.” Seru shin hye
“aku mohon shin hye, tolong aku” mohon so eun dengan wajah memelas yang memang tidak bisa shin hye tolak.
“Baiklah, tpi jangan lama – lama yah, aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu nantinya.” Ucap shin hye
“aku janji. “ jawab so eun sambil tersenyum manis.
Shin hye mulai memapah so eun menuju kursi rodanya, kemudian mengantar so eun menuju ruangan dimana kim bum dirawat.
So eun mulai masuk ruangan itu, seketika air matanya terjatuh ia menangis tak kuat melihat keadaan kim bum yang keadaanya seperti itu. So eun mulai mengayuh kursi rodanya mendekat pada kim bum. Dipandangnya kim bum lekat – lekat. So eun menangis, dan memegang tangan kim bum erat.
“Bumm – ah bangunlah kumohon ………………..” lirih so eun dalam tangisnya
Shin hye hanya bisa memandang mereka dengan tangis, tak pernah ia sangka akan seperti ini jadinya. So eun hanya bisa terus menangis sambil sesekali memohon agar kim bum cepat sadar.

1 minggu kemudian
So eun sudah mulai menjalani therapynya, ia berusaha berjalan menggunakan tongkat. Hampir setiap hari setelah therapy so eun pergi menjenguk kim bum yang sampai saat ini masih belum sadarkan diri.
So eun diantar oleh ibunya menuju kamar kim bum, ia ingin menunjukkan kemahirannya dalam menggunakan tongkat. Seolah ingin menunjukkan padanya semangat untuk hidup supaya kim bum pun menjadi semangat.
“bumm –ah lihat aku telah bisa memakain tongkat.” Seru so eun pada kim bum
Ibu so eun dan ibu kim bum hanya bisa menatap mereka dengan sedih, so eun selalu bersemangat untuk bisa kembali seperti semula. Ia berusaha untuk tidak menangis lagi.
“bu, ada yang ingin saya bicarakan.” Ucap ibu kim bum membuka pembicaraan dengan ibu so eun
“ada apa?” jawab ibu so eun
“sebaiknya kita berbicara diluar.” Ucap ibu kim bum seraya menarik tangan ibu so eun keluar
So eun masih terus berusaha berkomunikasi dengan kim bum. Dari mulai menceritakan kenangan – kenangan mereka berdua dan tentang hal – hal yang mereka sukai.
“Bumm – ah aku berjanji, jika kau telah sadar nanti aku akan mengabulkan permohonanmu. Apapun itu, aku akan berusaha mengabulkannya. Asalkan kau tetap hidup.” Ucap so eun sembari tersenyum manis.
“Begini, saya dan dokter Hyun joong sempat berbicara mengenai keadaan kim bum barusan, dan sepertinya kim bum harus dibawa ke Jepang untuk perawatan lebih lanjut. “ kata ibu kim bum
“Benarkah? Apa memang harus seperti itu?” Tanya ibu so eun kaget
“Ya, keadaan kim bum sangat parah. Ia harus mendapatkan perawatan yang lebih canggih.” Lanjut ibu kim bum
“aku doakan semoga kim bum berhasil diobati di Jepang, tapi aku merasa khawatir dengan keadaan so eun kalau dia tau kim bum akan pergi.” Ucap ibu so eun
“maka dari itu, saya bermaksud menyerahkan ini pada ibu.” Ucap ibu kim bum seraya memberikan sebuah buku diary pada ibu so eun/
“Apa ini bu?” Tanya ibu so eun heran
“aku menemukan ini dikamar kim bum, aku lihat ada foto so eun. Dan aku rasa ini untuk so eun. Tolong sampaikan pada so eun yah bu” ucap ibu kim bum
“akan aku sampaikan pada so eun. Oh iya kapan akan berangkat ke Jepang?” Tanya ibu so eun
“Besok pagi sekitar pukul 10 pagi.” Ucap ibu kim bum

Esoknya ……..
Seperti biasanya so eun menjalani therapy ditemani oleh ibunya, so eun sudah mulai mahir memakai tongkat kini. Namun ia masih belum diizinkan untuk memakai tongkah oleh ibunya, walaupun dokter sudah mengizinkannya. Ibunya masih terlalu khawatir dengan keadaan so eun yang memang belum stabil.
“Ibu aku sudah selesai therapy sekarang ayo antarkan aku menemui kim bum.” Kata so eun
Ibu so eun terkejut, ia bingung harus berkata apa pada so eun mengenai kepindahan kim bum ke Jepang ia takut terjadi sesuatu pada so eun.
“Bu …….. kenapa ibu malah diam?” Tanya so eun heran
“Oh tidak,,ayo ibu antar .” ucap ibu so eun
Setelah tiba dikamar kim bum, so eun merasa heran mengapa kamarnya kosong dan sangat rapi. Ia berfikir sejenak, apakah terjadi sesuatu pada kim bum? Ataukah ??? pertanyaan – pertanyaan itu mulai terlintas dikepala so eun, ia mulai merasa tidak enak.
“Bu kemana bummie?” Tanya so eun pada ibunya
“so eun, maaf …………” ucap ibu so eun yang tak kuasa mengatakan yang sebenarnya pada so eun.
“ada apa bu? Cepat katakana!!!” seru so eun
“ada sesuatu untukmu so eun.” Kata ibu so eun sambil menyerahkan buku diary itu pada so eun
So eun perlahan membuka buku diary itu, ada foto so eun berdua bersama kim bum dan fotonya yang sedang sendiri. Kemudian ia mulai membaca satu persatu halaman demi halaman
Halaman pertama
“dia laksana oase digurun sahara …. Senyumnya memancarkan ketulusan…. Aku tertarik oleh auranya, hingga tak ingin lepaskan pandanganku dari dirinya. Aku ingin tau siapa namanya ……”

Halaman kedua
“dia menangis, kucoba beranikan diri memberikan sapu tanganku untuknya. Untuk sekedar menghiburnya. Tapi aku salah, dia tidak serapuh yang aku kira. Dia menangisi seekor burung dara yang terluka, aku kira apa.
Hahahahahah …………
Tapi disinilah awal aku mengenalnya, namanya KIM SO EUN ….
Seorang gadis dengan diri yang penuh semangat dan selalu optimis, aku merasa bahagia mengenalnya, aku tak ingin jauh darinya, “

Halaman ketiga
aku satu kelas dengannya, bahkan dia menawariku untuk satu bangku dengannya. Dia bilang tidak ada yang dia kenal saat itu, teman wanitanya lebih memilih untuk satu bangku bersama kekasihnya. Sungguh beruntungnya aku …………..”

Halaman keempat
YOU CUT MY WINGS BEFORE I LEARN TO FLY …..
Ternyata hatinya milik orang lain,,,, dia bercerita banyak tentang cinta pertamanya yang menjadi misi dia untuk masuk ke sekolah ini. Aku tercekat tak berdaya, kurasa ini patah hati

selalu kucoba untuk menggambarkan isi hati dengan balutan keindahan bentuk puisi untuk temukan satu jawaban pasti, mengapa kau tak dapat kumiliki???”

Halaman kelima
Bukankah cinta itu tidak perlu memiliki? Aku memang tidak dapat memilikinya tapi aku masih bisa memberikan cintaku padanya.
Kumohon jangan menangis lagi gadisku, tetaplah bertahan meski aku tak ada disampingmu, jadilah seperti apa yang kau inginkan, aku ingin melihat kau terbang bebas meninggalkan beban hidupmu seperti phoenix “

Dihalaman berikutnya terselip sebuah recorder kecil berbentuk matahari. so eun mulai memutar tombol kecil disamping berusaha untuk mendengarkan apa isi dari recorder itu .
Dikala resah kian mendesah dan menggalaukan jiwamu
Aku ada disana
Disaat kau terluka
Hingga akhirnya tercabik keteguhan hatimu
Aku akan tetap berada disana ……….

Kau memberi arti bagi diri
Laksana embun dipadang gersang nuraniku
Memberiku setitik terang dalam kekalutanku
Kupasrahkan asaku dibahumu sebagai jaminan cintaku
Senyum itu mampu menghancurleburkan keangkuhan diri
Meluluhkan kelelahan dan membiarkanku larut dalam fantasi

Ketika lelah meraba dan semangatmu patah
Terhenti oleh kerikil – kerikil yang kau rasa terlampau tajam
Hingga akhirnya kau pun memilih jeda
Aku tetap disana …….
Memberimu isyarat untuk bertahan

Alunan kidung cinta itu mengalun lirih mengantar so eun pada satu titik kesimpulan bahwa selama ini kim bum mencintainya. Tak terasa air mata itu mengalir dipipinya, mengapa tak ia sadari dari dulu, ada rasa senang dalam hatinya ketika mengetahui perasaan kim bum sebenarnya.
“Ibu lalu dimana kim bum?” Tanya so eun
“kim bum akan pindah ke Jepang hari ini jam sepuluh.” Ucap ibu so eun sambil menahan air matanya
“Apa?” ucap so eun tak percaya
“Maafkan ibu nak, ibu tak bicarakan ini padamu dari awal ….” Ucap ibu so eun
So eun tak menghiraukan perkataan ibunya, ia langsung mengayuh kursi rodanya keluar dari kamar kim bum berusaha mencari kim bum. Ibu so eun mengejar namun ia tak dapat menahan so eun yang terlihat memang sangat tidak ingin ditinggalkan kim bum.
“Bumm –ah jangan tinggalkan aku!!” batin so eun menangis
So eun terus menjalankan kursi rodanya, memasuki lift untuk sampai kelantai dasar. Namun tak sempat ia sampai …….

Gubrakkkkk …..

ia terjatuh,, kepalanya mengenai jendela samping lift. Samar ia melihat mobil milik keluarga kim bum diluar dari balik jendela. Tubuh kim bum pun dimasukkan kedalam mobil, so eun menatap pemandangan itu dari jendela ia berusaha memanggil – manggil kim bum dengan nada lirih, namun tak ada jawab.
Mobil kim bum terus melaju, sedangkan so en hanya bisa menangis. Menangisi kepergian kim bum yang entah akan kembali atau tidak. Ibu so eun merangkul anaknya sambil menangis.
“Ibu …………………….. mengapa harus seperti ini???” tangis so eun menyeruak

“maafkan ibu nak, tapi ibu mohon jangan seperti ini. Kim bum pergi supaya dia bisa bertahan hidup. Kau pun disini harus seperti itu, kau harus hidup dan mampu bertahan supaya suatu saat kau bisa bertemu lagi dengannya.” Kata ibu so eun menenangkan so eun
“Benarkah itu bu? Jika aku bisa kembali seperti semula aku akan bertemu dengan bummie kembali?” Tanya so eun sambil terisak
“Ya, kau pasti akan bertemu lagi dengannya suatu hari nanti.” Ucap ibu so eun
To be continued …….

9 Tanggapan to “ROMANTIC EVE Part 4”

  1. dini ramadhani 19 September 2010 pada 12:00 AM #

    terharu sangad,aku sampe mo nangis
    kim bum begitu besar cintamu sampe rela mengorbankan nyawa utk soeun,kalo di kenyataan cintanya jg sebesar itu gak yah?*lebay

  2. Puchaaby 23 September 2010 pada 1:18 AM #

    Haduh makin penasaran ma lanjutannya ney..

    Keren bgt deh ni ffnya..

  3. tta 20 Desember 2010 pada 12:02 AM #

    bagus banget, ka . aku aja mpe nangis *aku emang cngeng .hhe :)*
    kakak puitis bgt ea , salut deh

  4. geill 22 Desember 2011 pada 12:18 PM #

    wuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………………
    sedih banget ni ffnya, ampe berurai air mata(lebay)…………….
    serasa nonton drama, gmn ama kelanjutan hubungan meraka ya????????????
    mending aq lanjut aja………………

  5. VayTeuKey 24 Desember 2011 pada 9:45 AM #

    kalo kim bum pergi, so eun gimana dong? wah setelah tahu kim bum suka sama dia, masih ada kesempatan gak ya buat seung ho? i’m not sure.

    curiga kim bum bakal lupa ingatan pas balik ke korea nanti. jangan dong, pasti so eun sedih banget deh.

  6. cucancie 23 September 2012 pada 1:13 PM #

    Hiks…terharu….sedih bgt..

  7. Mia 30 Juli 2014 pada 1:03 PM #

    Eah berpisah deh

  8. ainami 9 Agustus 2014 pada 3:35 PM #

    tangisku pecah baca part ini apalagi pas baca isi diary bum…
    ya ampun authornya puitis amat daebak

    sso juga sangat sayang sama bum, meski sbg sahabat… tp aku yakin itu krn dia ga menyadarinya.. kalo dia jadian ma seung ho pasti deh ntar sso berasa ada yg kosong dihatinya *heu sotoy*

    wah ga nyangka itu tabrakannya ma jin hee, lgsg modar pula dia kekeee~~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: